Ada Apa dengan Sastra Pesantren?
Oleh: Moh. Tamimi*
Sebagai mahasiswa semester 4 di sebuah perguruan tinggi swasta yang bisa disebut "ngedesa", aktifitas saya tidaklah begitu padat selain hanya tugas makalah dan presentasi. Di sela-sela aktifitas saya di kampus, saya biasa nongkrong sambil ngopi di warung kopi sebelah barat daya kampus. Ketika itu saya sempat mendengar pernyataan seseorang di samping saya: "eh, bro, kamu tahu tidak kalau sastrawan-sastrawan yang berasal dari pesantren itu banyak yang hebat-hebat lho? Kita patut bangga sebagai orang-orang pesantren. Akan tetapi, kenapa bisa begitu ya?"
Saya ingin sekali langsung menanggapi pernyataan sekaligus pertanyaan itu, namun saya takut tanggapan dan jawaban saya kurang mendalam, saya mencoba menganalisis sendiri sebelum menyampaikan tanggapan dan jawaban. Setelah cukup lama saya memeras otak, saya menemukan tiga poin yang menjadi alasan bahwa sastrawan pesantren banyak yang hebat: ajaran agama (Al-Qur'an dan hadist) yang penuh muatan sastra. Kebersamaan para santri dalam waktu 24 jam non stop dan cinta yang amat mendalam.
Ajaran Agama (Al-Qur'an dan Hadist)
Al-Qur'an sebagai kitab suci yang tidak diragukan lagi keabsahannya dan juga sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad, sungguh, penuh dengan muatan sastra. Bila dibandingkan dengan kitab sastra, maka Al-Qur'an mempunyai muatan sastra yang jauh melampaui di atasnya. Nah, di pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis Islam, Al-Qur'an takkan pernah terlepas di dalamnya. Setiap hari - setiap malam, para santri, diajari dan mempelajari Al-Qur'an. Coba kita telita setiap ayat Al-Qur'an, secara kasat mata saja, akan terlihat rima akhir (dalam istilah Bahasa Indonesia) ditemui. Tak jarang, satu ayat dengan ayat yang lain dalam satu surat mempunyai akhiran (rima) yang sama. Sama-sama berakhiran "mim", "nun", "ta' " dan lain sebagainya. Jangankan yang sudah jelas-jelas nampak begitu, dalam salah satu ayat di dalam surat Al-Bayyinah, misalnya, redaksi kalimatnya berubah dari bentuk aslinya hanya untuk (menurut sebatas pengetahuan saya) memperindah ayat Al-Qur'an. Kalimat "Akromaniy" (bersambung dengan huruf ya' mutakallim) menjadi "akroman" (huruf ya' mutakallimnya dibuang), dengan demikian ayat tersebut menjadi bersajak dengan redaksi ayat lainnya yaitu berakhiran "nun". Indah banget bukan!
Baiklah, anggap saja kita tak perlu heran karena Al-Qur'an memang merupakan mukjizat, coba kita beralih ke kitab lainnya, sebut saja kitab Alfiya. Alfiya merupakan kitab kecil yang membahas tentang ilmu nahwu dan dalam kitab itu bentuk tulisannya berbentuk syi'ir. Setiap baitnya, dari awal sampai akhir, mempunyai rima yang sama antara bagian pertama dan kedua dalam setiap baris. Wah, hebat juga bukan! Itu, bisa dikatakan, dibaca hampir setiap hari oleh para santri. Kalau sudah setiap hari disuguhi demikian, bukankah sangat mungkin untuk melahirkan karya sastra yang fenominal. Toh, sudah setiap hari digodok dengan sastra, belum lagi pelajaran khusus sastra di pesantren yaitu Balaghah (ilmu bahasa).
Ajaran Agama Islam berasal dari Arab dan sumbernya juga berbahasa arab, maka mempelajari bahasa Arab sama halnya mempelajari Agama Islam. Hanya Al-Qur'an yang dibahas dengan berjilid-jilid kitab dari masa ke masa dan hanya syi'ir arab juga yang terus dibaca sampai sekarang (bahkan menjadi ritual agamaan).
Kebersamaan Para Santri
Santri dibagi menjadi dua: santri kalong dan santri yang menetap di pondok pesantren. Santri yang saya sebut di sini adalah santri yang menetap di pondok pesantren. Secara umum, jika ada orang menyebut santri, maka yang tergambar dalam pikiran banyak orang pertama kali adalah orang yang mondok di pesantren. Nah, orang yang mondok ini tidak akan pulang-pulang ke rumah (yang pasti mereka bukan seperti bang Toyyib) kecuali memang ada waktu pulang/ ada hari-hari besar Islam/ karena sakit/ ada sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan. Pesantren adalah gambaran kecil masyarakat pada umumnya, di sana terdapat banyak santri dengan berbagai karakter/ golongan/ ras dan usia pula. Selama mondok, santri, terikat dengan aturan pesantren, namun mengenai penyaluran kreatifitas para santri, pesantren biasanya tetap memberikan ruang termasuk membangun komunitas-komunitas dalam pesantren, termasuk komunitas sastra. Jika komunitas sastra ini ditarik lebih mendalam lagi, maka komunitas yang berada di pesantren mempunyai keunikan sendiri. Mereka akan lebih mudah dan banyak bertemu di sela-sela kegiatan pesantren serta yang pasti, mereka akan lebih banyak belajar bersama. Kebersamaan inilah yang akan semakin menguatkan keilmuan dan rasa sosial mereka, sehingga pada akhirnya muatan karya mereka akan semakin berisi dan mengandung pesan yang patut untuk diapresiasi. Belajar bersama tentunya lebih efektif daripada belajar sendiri. Hal itu, lebih terbuka lebar di dunia pesantren.
Cinta yang Mendalam
Cinta memang tak pernah lepas dari kehidupan manusia pada umumnya. Cinta adalah nurani manusia, baik cinta kepada sesama ataupun cinta kepada Allah Swt. Di pesantren, kedua cinta itu sama-sama akan menjadi lebih mendalam. Cinta kepada sesama manusia, terutama antar jenis, akan semakin mendalam dan berkesan karena santriwan dan santriwati dipisah. Ada pagar pemisah diantara keduanya, baik secara lahiriah maupun secara etika. Berbada lagi cinta kepada sang Khaliq, para santri memang sudah digodok setiap hari mengenai ketuhanan. Meskipun demikian, bukan berarti semua santri akan mempunyai tingkat spiritual tinggi. Akan tetapi, minimal, lebih banyak yang baik daripada yang menjadi produk gagal.
Coba kita amati karya-karya sastrawan pesantren, semisal, Gus Mus (Mustofa Bisri), Sofyan RH. Zaid, D. Zawawi Imron, Jamal D Rahman dan lain sebagainya, karya-karya mereka sangat erat dengan kekuatan spiritual dan sosial. Ambil contoh puisi "Pagar" karya Sofyan RH. Zaid yang berjudul "Nabi Kangen":
bila kau lelah dan rindu # baca sajakku di atas batu
apa yang pernah tertunda # hari ini menjadi sabda
1/
aku berlindung dari hujan # juga panas bumi penghabisan
serasa dalam dekap surga # tenang terjaga jiwa semesta
senantiasa bersulang wahyu # merenangi sungai susu
kau dan aku; kitab suci # tak pernah usai dibaca matahari
(2014)
Itu adalah salah satu dari sekian banyak karya sastrawan pesantren. Saya rasa ada yang kurang dari tadi karena dari awal saya tak membahas apa itu sastra pesantren? Sastra pesantren menurut Ahmad Tohari adalah karya sastra yang memuat hal kebaikan. Gagasan di pikiranku itu saya kira sudah mencukupi untuk kemudian saya utarakan kepada orang di sampingku itu. Akan tetapi, sejenak saya terpikir kembali: "Bagaimana menumbuhkan sastra pesantren?". Albert Einsten mengatakan " seandainya saya diberi waktu satu jam untuk menyelesaikan suatu masalah, maka akan saya gunakan 50 menit untuk mencari sebabnya dan sisanya untuk memutuskannya." Oleh karena itu, berhubung sebab-sebabnya sudah saya sebutkan, maka untuk menumbuhkan sastra pesantren adalah tinggal memberdayakan tiga point di atas. Namun sayang, kini, pesantren mempunyai tantangan baru yaitu kesan pesantren karena adanya teroris jebolan pesantren. Itu menjadi tantangan tersendiri bagi pesantren untuk meningkatkan mutunya terutama di bidang sastra. Jangan-jangan nanti dicap sastrawan teroris dong, itu kan bikin gawat darurat. Pejuang kebudayaan kok dicap teroris. Ditambah lagi, memang benar-benar ada pesantren yang mendidik teroris dengan alasan perintah Tuhan. Jika harus disalahkan, maka salahkan Tuhan, katanya (Pernyataan Abu Bakar Ba'asyir). Sutan Takdil Alisyahbana juga mempunyai anggapan yang, saya bilang, salah tentang pesantren. Beliau memandang pesantren sebagai masa lalu yang ketinggalan zaman dan karenanya harus ditinggalkan, keliru.
Itu kan gak fear, toh pesantren tidak begitu. Banyak pesantren melahirkan manusia-manusia beradab termasuk juga sastrawan-sastrawan beradab. Berdasarkan keberanian dengan sedikit nekat saya utarakan sebuah gagasan saya kepada orang di sampingku itu. Akhirnya, kami menyimpulkan bahwa sastrawan pesantren mempunyai karakternya sendiri yang patut dibanggakan dan dikembang demi terciptanya kebudayaan yang benar-benar beradab. Akhirnya, mengutip pernyataan Goenawan Muhammad (2014), "kritik adalah usaha bersama untuk mendekatkan diri kepada kebenaran, bukan pembenaran." Oleh karena itu, apa yang saya sampaikan hanya sebatas pengetahuan saya. Apabila terdapat kekeliruan atau semacamnya, kritik dan saran sangat saya harapkan.
Sebagai mahasiswa semester 4 di sebuah perguruan tinggi swasta yang bisa disebut "ngedesa", aktifitas saya tidaklah begitu padat selain hanya tugas makalah dan presentasi. Di sela-sela aktifitas saya di kampus, saya biasa nongkrong sambil ngopi di warung kopi sebelah barat daya kampus. Ketika itu saya sempat mendengar pernyataan seseorang di samping saya: "eh, bro, kamu tahu tidak kalau sastrawan-sastrawan yang berasal dari pesantren itu banyak yang hebat-hebat lho? Kita patut bangga sebagai orang-orang pesantren. Akan tetapi, kenapa bisa begitu ya?"
Saya ingin sekali langsung menanggapi pernyataan sekaligus pertanyaan itu, namun saya takut tanggapan dan jawaban saya kurang mendalam, saya mencoba menganalisis sendiri sebelum menyampaikan tanggapan dan jawaban. Setelah cukup lama saya memeras otak, saya menemukan tiga poin yang menjadi alasan bahwa sastrawan pesantren banyak yang hebat: ajaran agama (Al-Qur'an dan hadist) yang penuh muatan sastra. Kebersamaan para santri dalam waktu 24 jam non stop dan cinta yang amat mendalam.
Ajaran Agama (Al-Qur'an dan Hadist)
Al-Qur'an sebagai kitab suci yang tidak diragukan lagi keabsahannya dan juga sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad, sungguh, penuh dengan muatan sastra. Bila dibandingkan dengan kitab sastra, maka Al-Qur'an mempunyai muatan sastra yang jauh melampaui di atasnya. Nah, di pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis Islam, Al-Qur'an takkan pernah terlepas di dalamnya. Setiap hari - setiap malam, para santri, diajari dan mempelajari Al-Qur'an. Coba kita telita setiap ayat Al-Qur'an, secara kasat mata saja, akan terlihat rima akhir (dalam istilah Bahasa Indonesia) ditemui. Tak jarang, satu ayat dengan ayat yang lain dalam satu surat mempunyai akhiran (rima) yang sama. Sama-sama berakhiran "mim", "nun", "ta' " dan lain sebagainya. Jangankan yang sudah jelas-jelas nampak begitu, dalam salah satu ayat di dalam surat Al-Bayyinah, misalnya, redaksi kalimatnya berubah dari bentuk aslinya hanya untuk (menurut sebatas pengetahuan saya) memperindah ayat Al-Qur'an. Kalimat "Akromaniy" (bersambung dengan huruf ya' mutakallim) menjadi "akroman" (huruf ya' mutakallimnya dibuang), dengan demikian ayat tersebut menjadi bersajak dengan redaksi ayat lainnya yaitu berakhiran "nun". Indah banget bukan!
Baiklah, anggap saja kita tak perlu heran karena Al-Qur'an memang merupakan mukjizat, coba kita beralih ke kitab lainnya, sebut saja kitab Alfiya. Alfiya merupakan kitab kecil yang membahas tentang ilmu nahwu dan dalam kitab itu bentuk tulisannya berbentuk syi'ir. Setiap baitnya, dari awal sampai akhir, mempunyai rima yang sama antara bagian pertama dan kedua dalam setiap baris. Wah, hebat juga bukan! Itu, bisa dikatakan, dibaca hampir setiap hari oleh para santri. Kalau sudah setiap hari disuguhi demikian, bukankah sangat mungkin untuk melahirkan karya sastra yang fenominal. Toh, sudah setiap hari digodok dengan sastra, belum lagi pelajaran khusus sastra di pesantren yaitu Balaghah (ilmu bahasa).
Ajaran Agama Islam berasal dari Arab dan sumbernya juga berbahasa arab, maka mempelajari bahasa Arab sama halnya mempelajari Agama Islam. Hanya Al-Qur'an yang dibahas dengan berjilid-jilid kitab dari masa ke masa dan hanya syi'ir arab juga yang terus dibaca sampai sekarang (bahkan menjadi ritual agamaan).
Kebersamaan Para Santri
Santri dibagi menjadi dua: santri kalong dan santri yang menetap di pondok pesantren. Santri yang saya sebut di sini adalah santri yang menetap di pondok pesantren. Secara umum, jika ada orang menyebut santri, maka yang tergambar dalam pikiran banyak orang pertama kali adalah orang yang mondok di pesantren. Nah, orang yang mondok ini tidak akan pulang-pulang ke rumah (yang pasti mereka bukan seperti bang Toyyib) kecuali memang ada waktu pulang/ ada hari-hari besar Islam/ karena sakit/ ada sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan. Pesantren adalah gambaran kecil masyarakat pada umumnya, di sana terdapat banyak santri dengan berbagai karakter/ golongan/ ras dan usia pula. Selama mondok, santri, terikat dengan aturan pesantren, namun mengenai penyaluran kreatifitas para santri, pesantren biasanya tetap memberikan ruang termasuk membangun komunitas-komunitas dalam pesantren, termasuk komunitas sastra. Jika komunitas sastra ini ditarik lebih mendalam lagi, maka komunitas yang berada di pesantren mempunyai keunikan sendiri. Mereka akan lebih mudah dan banyak bertemu di sela-sela kegiatan pesantren serta yang pasti, mereka akan lebih banyak belajar bersama. Kebersamaan inilah yang akan semakin menguatkan keilmuan dan rasa sosial mereka, sehingga pada akhirnya muatan karya mereka akan semakin berisi dan mengandung pesan yang patut untuk diapresiasi. Belajar bersama tentunya lebih efektif daripada belajar sendiri. Hal itu, lebih terbuka lebar di dunia pesantren.
Cinta yang Mendalam
Cinta memang tak pernah lepas dari kehidupan manusia pada umumnya. Cinta adalah nurani manusia, baik cinta kepada sesama ataupun cinta kepada Allah Swt. Di pesantren, kedua cinta itu sama-sama akan menjadi lebih mendalam. Cinta kepada sesama manusia, terutama antar jenis, akan semakin mendalam dan berkesan karena santriwan dan santriwati dipisah. Ada pagar pemisah diantara keduanya, baik secara lahiriah maupun secara etika. Berbada lagi cinta kepada sang Khaliq, para santri memang sudah digodok setiap hari mengenai ketuhanan. Meskipun demikian, bukan berarti semua santri akan mempunyai tingkat spiritual tinggi. Akan tetapi, minimal, lebih banyak yang baik daripada yang menjadi produk gagal.
Coba kita amati karya-karya sastrawan pesantren, semisal, Gus Mus (Mustofa Bisri), Sofyan RH. Zaid, D. Zawawi Imron, Jamal D Rahman dan lain sebagainya, karya-karya mereka sangat erat dengan kekuatan spiritual dan sosial. Ambil contoh puisi "Pagar" karya Sofyan RH. Zaid yang berjudul "Nabi Kangen":
bila kau lelah dan rindu # baca sajakku di atas batu
apa yang pernah tertunda # hari ini menjadi sabda
1/
aku berlindung dari hujan # juga panas bumi penghabisan
serasa dalam dekap surga # tenang terjaga jiwa semesta
senantiasa bersulang wahyu # merenangi sungai susu
kau dan aku; kitab suci # tak pernah usai dibaca matahari
(2014)
Itu adalah salah satu dari sekian banyak karya sastrawan pesantren. Saya rasa ada yang kurang dari tadi karena dari awal saya tak membahas apa itu sastra pesantren? Sastra pesantren menurut Ahmad Tohari adalah karya sastra yang memuat hal kebaikan. Gagasan di pikiranku itu saya kira sudah mencukupi untuk kemudian saya utarakan kepada orang di sampingku itu. Akan tetapi, sejenak saya terpikir kembali: "Bagaimana menumbuhkan sastra pesantren?". Albert Einsten mengatakan " seandainya saya diberi waktu satu jam untuk menyelesaikan suatu masalah, maka akan saya gunakan 50 menit untuk mencari sebabnya dan sisanya untuk memutuskannya." Oleh karena itu, berhubung sebab-sebabnya sudah saya sebutkan, maka untuk menumbuhkan sastra pesantren adalah tinggal memberdayakan tiga point di atas. Namun sayang, kini, pesantren mempunyai tantangan baru yaitu kesan pesantren karena adanya teroris jebolan pesantren. Itu menjadi tantangan tersendiri bagi pesantren untuk meningkatkan mutunya terutama di bidang sastra. Jangan-jangan nanti dicap sastrawan teroris dong, itu kan bikin gawat darurat. Pejuang kebudayaan kok dicap teroris. Ditambah lagi, memang benar-benar ada pesantren yang mendidik teroris dengan alasan perintah Tuhan. Jika harus disalahkan, maka salahkan Tuhan, katanya (Pernyataan Abu Bakar Ba'asyir). Sutan Takdil Alisyahbana juga mempunyai anggapan yang, saya bilang, salah tentang pesantren. Beliau memandang pesantren sebagai masa lalu yang ketinggalan zaman dan karenanya harus ditinggalkan, keliru.
Itu kan gak fear, toh pesantren tidak begitu. Banyak pesantren melahirkan manusia-manusia beradab termasuk juga sastrawan-sastrawan beradab. Berdasarkan keberanian dengan sedikit nekat saya utarakan sebuah gagasan saya kepada orang di sampingku itu. Akhirnya, kami menyimpulkan bahwa sastrawan pesantren mempunyai karakternya sendiri yang patut dibanggakan dan dikembang demi terciptanya kebudayaan yang benar-benar beradab. Akhirnya, mengutip pernyataan Goenawan Muhammad (2014), "kritik adalah usaha bersama untuk mendekatkan diri kepada kebenaran, bukan pembenaran." Oleh karena itu, apa yang saya sampaikan hanya sebatas pengetahuan saya. Apabila terdapat kekeliruan atau semacamnya, kritik dan saran sangat saya harapkan.
terima kasih,
BalasHapus