Postingan

Manajemen Keuangan Tanpa Uang

Menurutmu, mana lebih penting antara manajemen keuangan dan uang itu sendiri? Pertanyaan selanjutnya, bagaimana bisa menanejemen uang kalau tak ada uangnya? Saya tidak tahu, apakah cerita yang akan saya tulis ini mampu menjawab dua pertanyaan di atas. Saya hanya akan bercerita tentang pengalaman saya saat kuliah S3, bagaimana saya mengatur masalah finansial saya. Oh ya, saya tak akan konsisten menggunakan kata finansial, manajeman, keuangan, pengaturan, atau pengelolaan uang. Intinya Itu sudah. Jadi gini, dulu saat saya mau mendaftar kuliah S3 itu, saya tidak punya uang sama sekali. Mungkin di rekening saya saat itu hanya ada berapa puluh ribu, mentok ratusan ribu. Bekal saya hanyalah kemauan untuk melanjutkan kuliah. Kuliah S3 adalah plan B saya kalau saya tidak lolos belajar ke Amerika. Sebenarnya saya seperti orang bingung dan tanpa arah saat itu, punya kemauan tapi tak punya persiapan matang. Untungnya saya punya keluarga yang selalu mendukung saya. Kakak saya mendorong saya untuk...

Outline Kisah Cinta Si Kandidat Doktor

Gambar
Foto: Ini Iguana, dia apanya kadal? Anggap saja cerita ini bukan tentang saya, tetapi menggunakan kata ‘saya’ sebagai orang pertama dan tokoh utama. Dulu, hanya tebersit di pikiran saya bahwa saya akan melanjutkan studi ke program doktor, namun saat Madrasah Tsanawiyah (MTs) saya pernah menuliskan nama saya di secarik kertas “Prof. Dr. Moh. Tamimi, Lc.” Saya hanya merasa gaya saja kalau saya menjadi seorang profesor. Saat ini, saya tidak mendapatkan gelar “Lc.” dan belum mendapat gelar “Profesor.” Rencana saya ketika masih remaja adalah menikah saat umur 25 tahun. Saya pikir ini adalah keinginan umum umat manusia di sekitar saya, menikah setelah lulus sarjana. Saat masih umur belasan tahun awal, bisa selesai sarjana saja sudah capaian besar di sekitar saya. Kakak saya saja, pernah disuruh berhenti kuliah oleh tetangga saya karena takut orang tua saya tidak mampu membayar uang kuliah, saat itu juga masih sedikit program beasiswa seperti sekarang, tahun 2008 saat baru masuk kul...

Pasangan dalam Angka

Gambar
Saya kira angka ketertarikan pada seseorang itu sejalan dengan angka statistik baik tentang orang itu, ternyata belum tentu. Ini hanya pengalaman pribadi saya, apa yang saya maksud angka statistik di sini sebenarnya hanya pandangan subjektif saya terhadap seseorang. Dalam lima belas tahun terakhir saya dekat dengan beberapa perempuan, seingat saya empat orang, perempuan yang saya pikir saya akan menjalani hubungan yang serius dengan mereka. Itu sejak saya masih masih sekolah menengah atas sampai sekarang lulus S3 .  Perempuan pertama saat MA-S1 . Berakhir kandas, saat ini dia sudah menikah dan punya anak. Perempuan kedua saat S2. Berakhir kandas, saat ini dia sudah menikah dan punya anak. Perempuan ketiga saat S3. Berakhir kandas dalam waktu tidak sampai setahun, sekarang dia sudah menikah.  Perempuan keempat saat saya sudah selesai disertasi . Telah berakhir juga dalam waktu singkat, sekarang dia masih menikmati hidupnya tanpa menikah.  Semua perempuan itu punya karak...

Menertawakan Luka

Gambar
Foto: kopi tak selalu hitam/arsip penulis Aku biasa menertawakan luka yang kudera. Apa jadinya bila kesedihan harus diperparah dengan kemurungan. Bukan hanya aku, beberapa teman-temanku juga begitu. Kami terbiasa menertawakan itu semua layaknya melihat adegan lucu dalam sebuah panggung komedi.  Sayangnya, alam pikiran setiap kepala tidak selalu sama, semisal apa yang aku anggap solusi justru menjadi masalah bagi orang lain. Menertawakan luka orang lain salah satunya, alih-alih itu dianggap sebagai usaha menghibur, aku akan dianggap tidak peka terhadap kondisi dan perasaan orang lain, tega-teganya "melecehkan" masalah orang dengan menertawakannya.  Apa kamu sudah bisa mengambil pelajaran dari dua paragraf di atas? Kalau belum, mari kita lanjut pada ulasan yang lebih to the poin. Bung, kita perlu menjadi diri sendiri, tanpa topeng kepura-puraan, sehingga kita tidak perlu gonta-ganti topeng setiap bertemu orang baru. Ada kemungkinan orang suka kamu hanya saat kamu memakai topen...

Kenangan Serabutan 28

Gambar
  Foto: Pasir Hitam di Pantai Kotaraja Ende Hai, Tam. Apa kabar? Apakah kamu baik-baik saja tahun ini? Hai, saya tidak tahu harus jawab bagaimana atas pertanyaan singkat itu, kawan. Di usia saya yang ke-28 tahun kemarin saya banyak mendapatkan pengalaman-pengalaman menarik di luar ekspektasi saya--sekarang umur saya sudah 29 tahun lebih beberapa hari. Sungguh pengalaman yang indah.   Saya  banyak mengunjungi tempat-tempat jauh yang membuat saya banyak belajar: Belitung, Flores, Jakarta, Banten, Pacet, dan beberapa tempat lainnya. Itu adalah tempat-tempat yang menakjubkan. Suatu tempat menjadi menakjubkan bukan karena jaraknya yang jauh dari tempat asal kita tetapi karena tempat itu benar-benar punya nilai yang menakjubkan. Hei, apakah kali ini kita akan membahas cinta lagi? Oke, baiklah. Kalau untuk perjalanan-perjalanan saya ke berbagai tempat itu kamu bisa langsung baca laporan investigasi saya di website atau kamu bisa baca cuplikannya di Instagram saya. Kamu t...

Bukan Penunggu Malam

Saya sempat berpikir bahwa orang biasa begadang itu keren, hal yang jarang saya lakukan.  Saat masih MA (madrasah aliyah) saya punya kebiasaan lekas tidur seusai solat isyak, kalau tidak saya menyalin buku untuk beberapa halaman. Dulu saya sering menulis ulang buku pelajaran bagian materinya, utamanya materi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan Kimia. Saya menyalin buku SKI saat masih MTs dan Kimia saat MA. Saya senang melakukannya.  Kebiasaan menyalin ini sejak masih SD. Saat SD guru kelas selalu memberi tugas menulis ulang buku pelajaran dalam kelas, bukan PR. Kami sekelas biasa adu cepat, dengan menggunakan tulisan tegak bersambung. “Bu, disambung atau tidak?” adalah pertanyaan yang kerap kami lontarkan saat tugas diberikan. Kami menulis, gurunya pergi ke kantor.  Saya sering menang adu cepat dengan teman-teman. Sayangnya, tulisan saya jelek sekali, tulisan (tida) tegak bersambung benar-benar seperti cacing kepanasan di tanah kering. Sulit orang lain membaca tulisan saya...

Surat Sayang untuk Eureka

Hai, Eureka Sayang. Kemarin lusa Papa baru saja selesai ujian proposal disertasi. Alhamdulillah, proposal Papa dinilai menarik dan unik oleh para penguji, meski, tentu saja, terdapat beberapa catatan penting. Sebelum dijejali pertanyaan oleh penguji, Papa tidak terpikirkan akan ada pertanyaan semacam itu, pertanyaan mendasar yang terlewatkan. Papa bersyukur sekali bisa belajar dengan baik sampai sejauh ini. Malam ini Papa menyelesaikan tulisan tentang Ikan Toman (Channa micropeltes), maaf Papa harus sampaikan nama latinnya supaya kamu bisa mempelajarinya dengan mencari di mesin pencarian Google kalau penasaran.  Sambil menikmati seteko teh mawar (rose tea) di kafe depan kampus Papa, Papa menemani teman kelas Papa untuk mengerjakan proposalnya. Sesudah menyelesaikan tulisan tentang Ikan Toman, Papa beralih membaca jurnal terkait topik disertasi Papa, Epistemologi Feminist. Ternyata baca-baca seputar filsafat lumayan menguras otak yaa.  Papa merasa suka mempelajari hal-hal baru,...