Alasan Saya Belum Menikah
Pertanyaan “Kapan nikah?” bukan hanya datang dari orang lain, tapi tak kalah sering dari saya sendiri. Saya sering bertanya, mengapa saya tidak kunjung menikah.
Pertanyaan-pertanyaan lain juga sering muncul dari benak saya, sebenarnya apa yang saya kejar, apa yang saya cari dalam hidupan ini, relasi seperti apa yang saya ingin, istri seperti apa, saya mau bagaimana?
Mau dibilang saya tidak berani memutuskan menikah, tidak juga. Ada fase dimana saya sudah tampak dekat sekali dengan pertunangan, bahkan pernikahan, tapi sesuatu yang dekat seperti hari ini dan besok ternyata benar-benar masih sebuah misteri tak bertepi.
Sudah banyak teman, guru, kiai, rekan kerja, bos, dan beberapa keluarga saya yang mencoba membantu saya menemukan jodoh, tapi sejauh ini tak ada yang sukses.
Kadang saya merasa sungkan pada kenalan-kenalan saya itu, takut hubungan kami jadi renggang hanya karena perjodohan itu tidak berjalan mulus, lalu saling menilai atau menghakimi pilihan masing-masing
Alasan tidak suksesnya pun bermacam-macam, mulai dari yang kongkret sampai yang abstrak. Abstrak maksudnya hanya berupa sangkaan dan ketakutan-ketakutan.
Umumnya, banyak laki-laki yang meyakinkan perempuan bahwa dia pantas untuknya. Tapi bagi saya, saya juga butuh keyakinan, Dan saya juga kadang butuh juga diyakinkan. Kepalu selalu penuh dengan pertimbangan-pertimbangan. Ini bukan lagi sekedar masalah cinta dan menikah.
Mungkinkah alasannya hanya karena saya tak cinta? Itu mungkin saja. Tapi ya gimana, saat saya cinta kadang tak berakhir di pelaminan, tapi berakhir di pegunungan.
Kadang, saya merasa tak pantas untuk dia, kadang merasa saya tidak sesuai dengan kebutuhan si itu, kadang lagi saya merasa kurang percaya diri dengan kondisi saya, kadang saya lebih memilih karir saya, kadang takut akan begini dan begitu, dan banyak kadang-kadang yang lain dan perasaan-perasaan yang lain.
Perjaka umur 30-an emang kadang gitu, gak usah heran, pertimbangannya sudah makin banyak, gak punya darah panas yang suka tambrak sana tabrak sini layaknya pemuda pada umumnya.
Saya kasih contoh yang konkret. Semisal saya dekat dengan seseorang dan harus tinggal di kota besar dengan gaji kota kecil, ya gimana, buat bayar kos saja sudah nyaris habis, lalu untuk kebutuhan lainnya bagaimana. Nanti kalau ujung-ujungnya dibilang kurang ngasih nafkah dan kurang bertanggung jawab, ngeneslah diri saya ini, harga diri merasa terbanting-banting.
Saya takut saat masih membara-membaranya rasa suka, membutakan kami pada banyak realitas, diromantisasi “Semuanya akan mudah kalau kita jalani berdua”. Jujur saja, saya tak mau sengsara di tanah orang. Bisa jadi, ungkapan seperti itu sebatas ungkapan manis saja di saat mood sedang stabil, coba sedang kurang stabil, bisa meledak-ledak yang bikin hati miris. Apalagi kalau hal seperti itu dikatakan oleh orang baru.
Dari situlah, saya kadang merasa juga perlu diyakinakan, apakah dikau benar-benar menerima, benar-benar mau. Tapi akhirnya, saya berasumsi ini seperti di atas meja judi saja, untung-untungan. Semuanya akan berubah, entah berubah menjadi lebih baik atau lebih buruk.
Beralih ke contoh lain, anggaplah kali ini saya dekat dengan perempuan desa, tinggal di pedesaan Madura dengan biaya hidup lebih terjangkau. Timbul pertanyaan baru, saya punya ambisi mengejar karir. Saya ingin di kota ini atau di kota itu. Bagaimana kalau dia tidak bisa diajak tinggal di sana—tradisi di Madura itu matrilokal, suami ikut istri kalau menikah, tetapi garis keturunan dan kepemimpinan tetap di pihak laki-laki (baca A Latif Wijaya dan Kamla Bashin)—baik karena tidak mau atau tidak izinkan orang tua. Masalahnya, ini masih di fase ngejar karir, masih belum pasti dapat kerja di mana.
Pernah suatu ketika saya seperti “pejam mata” saya, mau langsung gas saja kalau memang mau, tapi lawannya tak begitu. Ya sudah.
Entah bagaimana, di pikiran saya, kesempatan kedua seperti itu terasa langka, kalau sudah tidak, ya cukup. Padahal kalau di pikir-pikir, ini kan bukan sekedar masalah saya saja, tapi dia juga, mungkin dia butuh ruang dan waktu lebih untuk memikirkan, mungkin belum bisa yakin akan pilihan ini, dan mungkin-mungkin yang lain, atau mungkin saya dikira tidak serius.
Pada akhirnya, kadang saya merasa bingung sendiri karena belum bertemu seseorang yang “seambisi”. Tapi, intinya jodoh itu ya, mau menikahi dan mau dinikahi. Itu saja. Kalau sudah menikah itulah jodohnya.
Kata teman, kadang jodoh itu adalah orang yang tidak pernah kita perhitungan sebelumnya. Jodoh bukan yang karena punya kesamaan ini dan itu. Jodoh ya anu. Gak tahu lagi dah.
Perlu saya tegaskan di akhir tulisan ini bahwa cita-cita saya untuk menikah masih berkobar-kobar. Alasan saya tidak menikah karena banyak alasan. Itu saja.
Terima kasih, mau diskusi lebih lanjut monggo. Bisa komentar di bawah ini atau hubungi saya secara pribadi. Mau coba peruntungan juga monggo.
Komentar
Posting Komentar