Keinginan

Saya selalu bingung menjawab pertanyaan, “Apa tujuan hidupmu, apa yang kamu inginkan?” Pertanyaan yang sulit saya jawab bukan yang mengarah pada ranah spiritual, tetapi ranah material. Duniawi.

Saya termasuk orang pemilih, lebih tepatnya terlalu banyak mempertimbangkan sesuatu. Namun pertanyaan itu perlahan semakin terang jawabannya setelah saya membaca novel Sang Alkemis karya Paulo Coelho.

Bagian yang saya suka dan mampu menembus labirin hati saya adalah ketika seorang raja yang menyamar bercerita tentang penjual roti. Si Raja membuat analogi yang bagus tentang penjual roti dan penggembala kambing. Kita ingin seperti apa pun ada konsekuensinya. Kalau jadi penggembala kambing, kita mungkin tidak sekaya penjual roti, tapi kita bisa mengarungi banyak tempat, kalau jadi penjual roti, kita mungkin menjadi kaya dan hidup berkecukupan, tetapi tidak bisa mengarungi tempat-tempat baru setiap hari, hanya fokus menjual roti.

Apa yang saya ceritakan sekilas ini mungkin akan tampak biasa saja pada kalian, selain mungkin saya kurang bagus dalam menceritakan ulang, tetapi pilihan menjadi penggembala kambing dan penjual roti ini benar-benar membuat saya tergugah ketika membacanya, membuat saya terbayang ke berbagai pilihan-pilihan hidup yang tengah saya jalani. Saya ingin seperti apa sebenarnya.

Teman saya, yang saya anggap sebagai kakak saya, sudah sering kali memberikan nasehat semisal kepada saya agar saya bisa tegas dalam memutuskan, selalu ada konsekuensi, dan selalu ada tawaran-tawaran lain. Mau bagaimana pun, jalani.

Semisal dulu saya sedikit dilema antara apakah saya perlu menentukan pekerjaan dahulu atau pernikahan dahulu. Saya punya fleksibilitas dalam memilih tempat kerja. Ini adalah suatu yang perlu sangat saya syukuri, tetapi di sisi lain saya perlu tambahan kerja (entah apa bahasa yang tepat), yang biasanya ketika tempat kerja sudah ditentukan, sulit untuk pindah lagi (khusus pekerjaan tambahan). Kenapa saya butuh tambahan kerja, tentu saja karena butuh tambahan uang bila sudah menikah.

Hanya saja, pilihan yang terlihat gampang itu tidak begitu mudah bagi saya. Membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kadang membuat kepala saya pusing. Kadang saya merasa heran pada diri saya sendiri dan merasa tersindir pada anak-anak kecil (muda yang saya anggap masih kecil) yang berani melawan arus. 

Jangankan itu, untuk menentukan kriteria pasangan pun saya merasa kesulitan, kesulitan untuk menyinkronkan dengan keinginan-keinginan saya yang lain. Sialnya, kadang ini juga membuat orang lain bingung ketika dia ‘terikat’ dengan saya.

Berbagai pikiran-pikiran saya yang berkecamuk itu sedikit banyak mampu ditundukkan oleh Paulo Coelho lewat novelnya Sang Alkemis itu. Coelho ternyata adalah seorang pengembara dan mengaku banyak diilhami oleh kajian-kajian tasawuf, kendati dia Non Islam. 

Mulai hari ini dan ke depannya, mungkin saya akan selalu memasukkan Sang Alkemis sebagai salah satu buku paling berpengaruh dalam hidup saya. 

Mungkin saya hanya membaca ratusan buku selama ini, dan Teologi Negatif Ibnu ‘Arabi dan Sang Alkamis adalah di antara buku-buku yang punya pengaruh langsung terhadap keseharian saya, terutama dalam memutuskan sesuatu. Dulu lumayan suka baca buku teologi/ilmu kalam. 

Suatu ketika, saat saya makan malam dengan tiga teman saya di Flores, salah satu teman saya itu bilang padaku sambil membalikkan badan saat mau naik tangga, “Tamimi, saya sarankan kamu perlu ketahui dulu apa yang kamu inginkan.” 

Seandainya dia bertanya dan mengatakan hal seperti itu lagi pada saya, maka mungkin saya akan menjawab, “Saya ingin menjadi penggembala”. 


Komentar