Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Keinginan

Saya selalu bingung menjawab pertanyaan, “Apa tujuan hidupmu, apa yang kamu inginkan?” Pertanyaan yang sulit saya jawab bukan yang mengarah pada ranah spiritual, tetapi ranah material. Duniawi. Saya termasuk orang pemilih, lebih tepatnya terlalu banyak mempertimbangkan sesuatu. Namun pertanyaan itu perlahan semakin terang jawabannya setelah saya membaca novel Sang Alkemis karya Paulo Coelho. Bagian yang saya suka dan mampu menembus labirin hati saya adalah ketika seorang raja yang menyamar bercerita tentang penjual roti. Si Raja membuat analogi yang bagus tentang penjual roti dan penggembala kambing. Kita ingin seperti apa pun ada konsekuensinya. Kalau jadi penggembala kambing, kita mungkin tidak sekaya penjual roti, tapi kita bisa mengarungi banyak tempat, kalau jadi penjual roti, kita mungkin menjadi kaya dan hidup berkecukupan, tetapi tidak bisa mengarungi tempat-tempat baru setiap hari, hanya fokus menjual roti. Apa yang saya ceritakan sekilas ini mungkin akan tampak biasa saja pad...

Alasan Saya Belum Menikah

Pertanyaan “Kapan nikah?” bukan hanya datang dari orang lain, tapi tak kalah sering dari saya sendiri. Saya sering bertanya, mengapa saya tidak kunjung menikah. Pertanyaan-pertanyaan lain juga sering muncul dari benak saya, sebenarnya apa yang saya kejar, apa yang saya cari dalam hidupan ini, relasi seperti apa yang saya ingin, istri seperti apa, saya mau bagaimana? Mau dibilang saya tidak berani memutuskan menikah, tidak juga. Ada fase dimana saya sudah tampak dekat sekali dengan pertunangan, bahkan pernikahan, tapi sesuatu yang dekat seperti hari ini dan besok ternyata benar-benar masih sebuah misteri tak bertepi. Sudah banyak teman, guru, kiai, rekan kerja, bos, dan beberapa keluarga saya yang mencoba membantu saya menemukan jodoh, tapi sejauh ini tak ada yang sukses.  Kadang saya merasa sungkan pada kenalan-kenalan saya itu, takut hubungan kami jadi renggang hanya karena perjodohan itu tidak berjalan mulus, lalu saling menilai atau menghakimi pilihan masing-masing   A...

Manajemen Keuangan Tanpa Uang

Menurutmu, mana lebih penting antara manajemen keuangan dan uang itu sendiri? Pertanyaan selanjutnya, bagaimana bisa menanejemen uang kalau tak ada uangnya? Saya tidak tahu, apakah cerita yang akan saya tulis ini mampu menjawab dua pertanyaan di atas. Saya hanya akan bercerita tentang pengalaman saya saat kuliah S3, bagaimana saya mengatur masalah finansial saya. Oh ya, saya tak akan konsisten menggunakan kata finansial, manajeman, keuangan, pengaturan, atau pengelolaan uang. Intinya Itu sudah. Jadi gini, dulu saat saya mau mendaftar kuliah S3 itu, saya tidak punya uang sama sekali. Mungkin di rekening saya saat itu hanya ada berapa puluh ribu, mentok ratusan ribu. Bekal saya hanyalah kemauan untuk melanjutkan kuliah. Kuliah S3 adalah plan B saya kalau saya tidak lolos belajar ke Amerika. Sebenarnya saya seperti orang bingung dan tanpa arah saat itu, punya kemauan tapi tak punya persiapan matang. Untungnya saya punya keluarga yang selalu mendukung saya. Kakak saya mendorong saya untuk...

Outline Kisah Cinta Si Kandidat Doktor

Gambar
Foto: Ini Iguana, dia apanya kadal? Anggap saja cerita ini bukan tentang saya, tetapi menggunakan kata ‘saya’ sebagai orang pertama dan tokoh utama. Dulu, hanya tebersit di pikiran saya bahwa saya akan melanjutkan studi ke program doktor, namun saat Madrasah Tsanawiyah (MTs) saya pernah menuliskan nama saya di secarik kertas “Prof. Dr. Moh. Tamimi, Lc.” Saya hanya merasa gaya saja kalau saya menjadi seorang profesor. Saat ini, saya tidak mendapatkan gelar “Lc.” dan belum mendapat gelar “Profesor.” Rencana saya ketika masih remaja adalah menikah saat umur 25 tahun. Saya pikir ini adalah keinginan umum umat manusia di sekitar saya, menikah setelah lulus sarjana. Saat masih umur belasan tahun awal, bisa selesai sarjana saja sudah capaian besar di sekitar saya. Kakak saya saja, pernah disuruh berhenti kuliah oleh tetangga saya karena takut orang tua saya tidak mampu membayar uang kuliah, saat itu juga masih sedikit program beasiswa seperti sekarang, tahun 2008 saat baru masuk kul...

Pasangan dalam Angka

Gambar
Saya kira angka ketertarikan pada seseorang itu sejalan dengan angka statistik baik tentang orang itu, ternyata belum tentu. Ini hanya pengalaman pribadi saya, apa yang saya maksud angka statistik di sini sebenarnya hanya pandangan subjektif saya terhadap seseorang. Dalam lima belas tahun terakhir saya dekat dengan beberapa perempuan, seingat saya empat orang, perempuan yang saya pikir saya akan menjalani hubungan yang serius dengan mereka. Itu sejak saya masih masih sekolah menengah atas sampai sekarang lulus S3 .  Perempuan pertama saat MA-S1 . Berakhir kandas, saat ini dia sudah menikah dan punya anak. Perempuan kedua saat S2. Berakhir kandas, saat ini dia sudah menikah dan punya anak. Perempuan ketiga saat S3. Berakhir kandas dalam waktu tidak sampai setahun, sekarang dia sudah menikah.  Perempuan keempat saat saya sudah selesai disertasi . Telah berakhir juga dalam waktu singkat, sekarang dia masih menikmati hidupnya tanpa menikah.  Semua perempuan itu punya karak...