Manajemen Keuangan Tanpa Uang

Menurutmu, mana lebih penting antara manajemen keuangan dan uang itu sendiri? Pertanyaan selanjutnya, bagaimana bisa menanejemen uang kalau tak ada uangnya?

Saya tidak tahu, apakah cerita yang akan saya tulis ini mampu menjawab dua pertanyaan di atas. Saya hanya akan bercerita tentang pengalaman saya saat kuliah S3, bagaimana saya mengatur masalah finansial saya.

Oh ya, saya tak akan konsisten menggunakan kata finansial, manajeman, keuangan, pengaturan, atau pengelolaan uang. Intinya Itu sudah.

Jadi gini, dulu saat saya mau mendaftar kuliah S3 itu, saya tidak punya uang sama sekali. Mungkin di rekening saya saat itu hanya ada berapa puluh ribu, mentok ratusan ribu.

Bekal saya hanyalah kemauan untuk melanjutkan kuliah. Kuliah S3 adalah plan B saya kalau saya tidak lolos belajar ke Amerika. Sebenarnya saya seperti orang bingung dan tanpa arah saat itu, punya kemauan tapi tak punya persiapan matang.

Untungnya saya punya keluarga yang selalu mendukung saya. Kakak saya mendorong saya untuk lanjut kuliah. Katanya dia akan memberi saya uang pendaftaran. 

Saya sudah dikasih uang pendaftaran yang dia janjikan itu, sayangnya saya masih belum bisa daftar karena ijazah S2 saya belum keluar kayaknya, atau karena saya lebih memilih ke Para dulu, saya agak lupa bagian ini. Uang itu habis saya pakai buat kursus Bahasa Inggris karena gak jadi daftar kuliah.

Sepulang Pare, saya sudah tak lolos ke Amerika karena tak memenuhi syarat, TOEFL saya tak memenuhi target setelah kursus selama 3,5 bulan.

Saya dikasih uang lagi untuk daftar kuliah. Kali ini berhasil daftar. Setelah keterima pun, saya masih belum punya uang sama sekali, butuh belasan juta untuk biaya semester pertama.

Akhirnya, diputuskanlah bersama keluarga, kami akan menggadaikan sertifikat rumah kami. Saya yang akan bayar cicilannya setiap bulan. 

Saya kuliah sambil bekerja. Kalau boleh memilih, saya ingin kuliah saja tanpa harus memikirkan uang untuk biaya kehidupan sehari-hari saya di Malang dan biaya kuliah.

Gaji saya tidaklah besar. Saya hidup sangat ngirit. Saya selalu mendahulukan cicilan saya. Biasanya, uang gaji saya itu langsung saya potong buat bayar cicilan bulanan, sisanya baru buat kebutuhan sehari-hari, mulai dari biaya kos sampai uang makan.

Bulan pertama saya mengalami semacan shock culture. Keuangan saya minus. Tiba-tiba uang sudah habis sebelum berganti bulan. Saya tak terbiasa mengatur masalah keuangan di rumah. Di pikiran saya sebelumnya hanyalah, “Kalau ada uang beli, kalau gak ada ya sudah.”

Itulah kenapa saya tak punya tabungan sama sekali. Gaji bulanan saya biasanya habis buat jalan-jalan, atau buat beli barang-barang, biasanya kebanyakan buat motor dan buku.

Kamu tahu, pernah suatu ketika saya merasa konyol, karena saat di sebuah acara di Surabaya, saya merasa “kaya” bukan seorang yang kekurangan dengan bilang “Saya uang kalau cuma buat jalan ada, tapi ….” Waktu itu bahas tentang keamanan mental. 

Orang-orangdi sekitar saya waktu adalah orang yang benar-benar kaya, bukan sok kaya macam saya, “Jalan-jalan ke mana dulu?” Imbuh teman saya waktu itu. Ternyata kami beda standar. Hahaha. Di antara merek kelasnya Eropa, luar negeri, sedangkan saya kelas keluar kamar, mentor antar kecamatan. Haha.

Oke, kembali ke Malang, ke kampus.

Coba bayangkan, kalu kamu mode irit sekali, paling kemu menghabiskan berapa ribu per hari? Kalau saya 6 rb/2 hari.

Saya pikir kamu tidak salah baca, Saya hanya menghabiskan uang 3 rb per hari untuk membeli lauk untuk makan seharian.

Saya masak sendiri. Saya biasa membawa beras dari rumah. Kalau kurang, karena lama tak pulang, baru beli beras 5 kiloan, beli 1 kg juga pernah.

Bisa beli apa uang 6 rb itu? Biasanya dua macam lauk, semisal tahu sama kangkung, tempe sama kol,dan semacamnya. Intinya cukup dua macam. Nah, dua macam sayur itu saya bagi dua, separuh-separuh, untuk dimasak hari itu dan besoknya.

Saya juga sangat jarang bepergian, rute saya hanyalah kos dan kampus. Sesekali keluar kalau ada acara, itu pun jalan kaki selama masih mungkin. Jalan kaki 2 km seolah itu sudah biasa bagiku, bahkan saya pernah jalan kaki sejauh 10 km (ini karena patah hati sih, kita cerita di lain waktu saja).

Namanya juga ngirit kelas elit (sangat ekstrem maksudnya) yaa tubuh saya kurus banget. 

Tidak jarang saya berpuasa sampai berpuluh hari. Pernah hampir dua bulan. Ngirit dengan alibi ibadah. 

Makanya, kalau ada doi yang mau sesuatu atau saya mau kasih sesuatu, perlu ada hal-hal lain dikorbankan. Saya tak bisa seroyal itu untuk orang lain, di sisi lain itu kadang bikin saya merasa bersalah. Tetapi setelah semua ini berlalu, saya tak menyesalinya.

Seingat saya, saya dua kali menggadaikan sertifikat rumah. Semester berikutnya saya pinjam perusahaan (tempat kerja saya) atau pinjam ke bos saya secara pribadi. Kalau uang kecil-kecil, pinjam ke teman. Kalau masih belum putus dengan doi, saya sering pinjemin uangnya, tapi sekalipun saya tak pernah minta, selalu saya bayar segara.

Dulunya saya termasuk orang yang anti berhutang selama masih punya dan tak mendesar. Ya itu, seperti yang saya katakan di awal, kalau mau sesuatu, kalau ada uangnya, ya langsung sikat saja, gak usah pikir terlalu panjang, tapi kalau gak ada, gak ngoyo harus begini dan begitu. Saya tak begitu ambisius perihal ini.

Saat masih di Malang, ibu saya bila telponan dengan saya selalu tanya apakah uanh saya cukup. Kalau gak ada mau dikirimin (kadang bilang gitu, kadang enggak), saya selalu bilang ada meski mepet sekali. Saya merasa gengsi sekali kadang. Haha. 

Hutang eksternal saya baru lunas bulan lalu. Saya sudah merasa sedikit lega, akhirnya semua ini bisa dilewati. Apakah semua ini sudah berakhir, belum.

Saya menghabiskan sekitar 100 jt untuk biaya kuliah S3 saya. Tak begitu terbayangkan sebelumnya, saya akan dapat dari mana uanh sebanyak itu. Hanya saja, uang sebanyak itu akan tertumpuk kalau dicicil sedikit demi sedikit. Bagi orang rich, itu tak seberapa, tapi untuk kalangan menengah ke samping seperti saya, itu jumlah yang tak sedikit.

Saya kira, manajemen uang dan uangnya sama-sama penting. Punya manajemen keuangan bahkan sebelum punya uangnya itu tak kalah penting dari uang itu sendiri. Tapi semisa mungkin jangan seekstrem saya lah. Ayo perbanyak uang kita, lalu gunakan sebaik mungkin di jalan yang benar.

Dari tadi, mana pembahasan manajemen keuangannya? Saya jadi bingung sendiri.

Ah, intinya sebenarnya tahu skala prioritas, tapi menentukan skala prioritas itu kadang tak semudah yang kita kira. Terkadang, semuanya adalah prioritas, semuanya tengah dibutuhkan segera.

Apakah saya sengenes itu di Malang? Tidak juga. Setiap bulan, sebisa mungkin saya menyisihkan uang buat beli buku. Cerita ekstrem di atas itu hanyalah bagian terdarurat untuk bertahan hidup.

Sering kali, saya mendapatkan solusi di tengah jalan. Semisal, tiba-tiba ada project mengulas buku berbayar, tiba-tiba dapat kos murah dan layak, tiba-tiba dapat diskon kos, tiba-tiba ada teman yang datang bawa makanan. Ada banyak tiba-tiba bantuan Tuhan lewat hal-hal yang tidak saya sangka. Tiba-tiba putus cinta. Duh.

Kalian paling mengerti jalan uang kalian, kalian pula yang paling tahu kebutuhan kalian. Kalian tak butuh ceramah, bukan? Yah, kalian hanya butuh uang. Yang terpenting, kita selalu harus bertanggung jawab terhadap apa yang kita putuskan.


27 April 2026, 22.00






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menertawakan Luka

Pasangan dalam Angka

Tarekat Qadiriyah