Pasangan dalam Angka
Saya kira angka ketertarikan pada seseorang itu sejalan dengan angka statistik baik tentang orang itu, ternyata belum tentu.
Ini hanya pengalaman pribadi saya, apa yang saya maksud angka statistik di sini sebenarnya hanya pandangan subjektif saya terhadap seseorang.
Dalam lima belas tahun terakhir saya dekat dengan beberapa perempuan, seingat saya empat orang, perempuan yang saya pikir saya akan menjalani hubungan yang serius dengan mereka. Itu sejak saya masih masih sekolah menengah atas sampai sekarang lulus S3.
Perempuan pertama saat MA-S1. Berakhir kandas, saat ini dia sudah menikah dan punya anak.
Perempuan kedua saat S2. Berakhir kandas, saat ini dia sudah menikah dan punya anak.
Perempuan ketiga saat S3. Berakhir kandas dalam waktu tidak sampai setahun, sekarang dia sudah menikah.
Perempuan keempat saat saya sudah selesai disertasi. Telah berakhir juga dalam waktu singkat, sekarang dia masih menikmati hidupnya tanpa menikah.
Semua perempuan itu punya karakteristiknya sendiri-sendiri, namun yang pasti, makin ke sini, makin cantik dan makin pinter berdasarkan pengamatan saya.
Perempuan terakhir yang paling cantik menurut saya dan juga cantik menurut beberapa orang terdekat saya.
Itu terjadi mungkin karena dulu saya punya pemikiran, kalau saya putus dengan seseorang, penggantinya harus lebih baik, lebih pintar, dan lebih cantik. Dan, itu yang saya dapatkan.
Akan tetapi, apakah saya bisa cocok dengan mereka? Itu masalah lain dan ini poin yang akan kita bahas.
Kenapa saya putus, jawaban singkatnya karena kami satu sama lain tidak merasa saling cocok, baik saya yang ditinggalkan atau yang meninggalkan.
Kata teman, kami beda keyakinan. Saya yakin mau, dia yakin tidak mau.
Saya selalu ingin menciptakan dan ingin berada dalam harmoni, keseimbangan hidup tanpa merasa timpang, tak ingin konfrontasi.
Oleh karena itu, saya selalu berpikir, apakah saya bisa hidup dengan dia. Saya merasa tahu sejauh mana batas diri saya saat itu.
Pertanyaan seperti itu selalu berputar-putar di kepalaku, alasannya selalu seputar masalah ketertarikam diri, keadaan finansial, keselarasan emosi, atau kesenjangan-kesenjangan lainnya.
Ketika berkenalan dengan orang baru, ketika masih tahap ngobrol, kadang saya merasa jawaban-jawabannya bagus, tapi enehnya kadang saya tidak tertarik sama sekali—saya tipikal orang yang sulit jatuh cinta—entah karena wajahnya tidak cantik, atau status sosial tidak setara (tidak sekufu), atau saya merasa tak pantas karena hal-hal lain, atau karena ada sesuatu yang mengganjal di pikiran saya tapi saya tidak tahu persis itu apa.
Mungkin ini yang paling mungkin: “kecemasan terhadap masa depan”, kalau diperhalus mungkin “pertimbangan masa depan”.
Kalau saya dengan dia, bagaimana kalau saya tidak bisa begini dan begitu, kalau saya dengan dia bagaimana kalau kami bakal seperti ini.
Apakah usia dan pengalaman hidup mempengaruhi pemikiran saya yang seperti itu? Saya yakin jawabannya iya—mungkin karena usia saya sudah 30 tahun.
Akan tetapi masalahnya sekarang adalah bagaimana menghadapi pikiran sendiri yang seperti itu, yang mempertanyakan banyak hal yang sebenarnya belum tentu terjadi.
“Dia cantik kayak rembulan begitu, pintar, baik, dan mau ke kamu. Kamu masih mau seperti apa lagi?” Tidak jarang orang berkata seperti itu kepada saya.
Terus terang, saya sebenarnya sudah sering nekat. Meski tidak begitu cocok, bila si perempuan beneran mau ke saya dan masih ada bagian dari dirinya yang saya suka, saya tawarkan untuk masuk ke jenjang lebih serius.
Hanya saja, seringnya saya terlalu terus terang tentang apa yang saya pikirkan. Berharap dia mengerti, sayangnya, tak semudah itu orang lain menerima apa yang saya pikirkan. Dan saya kurang suka pikiran saya dikekang dan dikontrol sedemikian rupa, apalagi hanya untuk menyenangkan orang lain tapi menyakiti diri sendiri.
Saya berusaha mengontrol diri sendiri, tapi saya tak senang mengontrol orang lain dan dikontrol orang lain. Rasanya sepertinya penyiksaan psikis.
Salah seorang perempuan di atas pernah berujar pada saya bahwa saya sebenarnya cukup baik dan pintar tetapi ada beberapa di antara kami yang dia merasa kurang cocok—kami sama-sama kaum "timbangan". Sayangnya, dia tidak memberikan penjelasan rinci, apa saja itu, kecuali beberapa hal—Saat ini saya pikir, itu sudah lebih dari cukup untuk merasa tidak cocok.
Teman saya bilang, kalau perempuan bilang begitu, berarti sudah ada yang cocok ke dia menurutnya. Awalnya saya tak begitu percaya, akhirnya saya percaya setelah membaca tulisan suaminya beberapa waktu lalu.
Kalian boleh percaya atau tidak, mungkin kalian boleh anggap saya ngeles saja sebagai laki-laki, saya sebenernya tidak jarang merasakan hal yang sama dengan apa yang perempuan tadi rasakan, tetapi biasanya bukan karena orang baru, mau dibilanh ada orang baru, kadang diri ini masih kebingunan untuk incar perempuan yang mana lagi.
Saya lebih percaya bahwa tidak semua pengalaman, pemikiran, dan perasaan itu valid, dalam artian itu bisa dibenarkan. Itu hanya valid dalam artian bahwa itu benar-benar terjadi pada dirinya, terpikir olehnya, dan dirasakan olehnya. Urusan benar-salah, itu beda lagi.
Perasaan sering kali membuat seseorang hilang arah, pemikiran kadang membuat seseorang tersesat dan dahaga pada hal yang tak perlu, dan pengalaman seseorang hanya bagian dari sumber-sumber pengetahuan.
Sepertinya kita telah sedikit melenceng dari rel utama pembahasan kita.
Saya ingin bahas tentang pasangan dalam angka.
Kecocokan seorang pasangan, tidak bisa semata-mata diukur dalam angka, yang mana yang paling cantik/ganteng, yang lebih pintar, atau yang lebih kaya. Pasangan benar-benar adalah takdir, takdir yang harus kita usahakan.
Secara statistik, kandidat yang satu mungkin lebih unggul, tetapi dengan kandidat yang statistiknya lebih rendah itulah, mungkin kita merasa cocok untuk hidup bersama.
Saya kira, merasa cukup lebih menenangkan daripada merasa kurang atau merasa lebih.
Terima kasih telah membaca sampai akhir. Bila kalian punya tanggapan atau masukan, dipersilahkan.
Semoga tulisan ini tidak menyakiti siapapun di antara kalian semua.
Kamar, 5 Februari 2026 21.41

Komentar
Posting Komentar