Outline Kisah Cinta Si Kandidat Doktor
| Foto: Ini Iguana, dia apanya kadal? |
Anggap saja cerita ini bukan tentang saya, tetapi
menggunakan kata ‘saya’ sebagai orang pertama dan tokoh utama.
Dulu, hanya tebersit di pikiran saya bahwa saya akan
melanjutkan studi ke program doktor, namun saat Madrasah Tsanawiyah (MTs) saya
pernah menuliskan nama saya di secarik kertas “Prof. Dr. Moh. Tamimi, Lc.” Saya
hanya merasa gaya saja kalau saya menjadi seorang profesor.
Saat ini, saya tidak mendapatkan gelar “Lc.” dan belum
mendapat gelar “Profesor.”
Rencana saya ketika masih remaja adalah menikah saat umur 25
tahun. Saya pikir ini adalah keinginan umum umat manusia di sekitar saya,
menikah setelah lulus sarjana. Saat masih umur belasan tahun awal, bisa selesai
sarjana saja sudah capaian besar di sekitar saya.
Kakak saya saja, pernah disuruh berhenti kuliah oleh
tetangga saya karena takut orang tua saya tidak mampu membayar uang kuliah,
saat itu juga masih sedikit program beasiswa seperti sekarang, tahun 2008 saat
baru masuk kuliah.
Kalau saya nikah umur 25 tahun, itu seperti usia Nabi
Muhammad Saw. menikah. Usia yang ideal.
Ketika Madrasah Aliyah (MA) saya punya gebetan yang lumayan
cantik dan berprestasi. Kalian jangan bayangkan saya dan gebetan saya melakukan
hal-hal yang erotis, tidak, aktivitas kami saat itu hanyalah SMS-an dan aksi
tukar buku. Kalau kami ketemu, biasanya cuma untuk pinjam buku, ketemunya hanya
sekian detik.
Akhir cerita, kami putus saat kuliah, mungkin setelah
bersama sekitar 5-6 tahun. Saya wisuda sarjana dalam keadaan jomblo. Saya lupa
kapan persisnya kami putus.
Saya lanjut bekerja dan dia menikah.
Hanya sepuluh bulan saya bekerja, saya keluar dari tempat
kerja dan mendaftar kuliah magister sambil bekerja di instansi lain.
Di tengah perjalanan kuliah semester, saya ketemu cewek,
belum sempat jadian, tapi meninggalkan prahara menjelang saya lulus, awal
semester 4. Oke, untuk kedua kalinnya saya wisuda lagi dalam keadaan jomblo dan
dia kini telah menikah dengan teman saya.
Saya bingung mau beraktivitas apa lagi setelah wisuda.
Seharusnya, berdasarkan rencana awal saya, saat itu saya nikah karena umur saya
sudah 26 tahun. Niat saya untuk melanjutkan studi timbul kembali berkat
dorongan saudara saya, katanya mumpung saya belum nikah.
Mau nikah pun, saya harus nikah dengan siapa, tak ada cinta
yang lain.
Kalau diingat-ingat kembali, ternyata keinginan saya untuk
lanjut S3 sudah timbul saat masih kuliah S2, walaupun tidak begitu kuat, hanya sedikit terlintas saja di kepala.
Sesudah wisuda magister, saya mendapat tawaran untuk menjadi
dosen. Saya tolak karena pikiran saya sudah punya rencana baru; studi ke luar
negeri.
Rencana baru ini timbul karena salah satu guru saya
mengunggah beasiswa non degree di grup Facebook tertutup. Dia
menyarankan kami di grup itu untuk ikut. Saya tertarik karena hanya sepuluh
bulan dan tidak usah tugas akhir.
Oh, satu lagi, salah satu syarat beasiswa ke luar negeri itu
adalah tengah menjadi jurnalis atau aktivis dengan pengalaman minimal lima
tahun. Saya waktu itu masih belum sampai lima tahun sebenarnya pengalaman saya,
tengah berjalan.
Saya berangkat ke Pare untuk kursus Bahasa Inggris. Total
saya kursus di saya empat bulan (termasuk libur hari raya selama setengah
bulan). Skor TOEFL saya tidak sampai target, 525. Saya merasa itu maklum karena
saya memang belajar Bahasa Inggris dari Nol Besar, tahunya hanya I Love You
walau tidak tahu susunan kalimatnya (grammar).
Saat pulang liburan setengah bulan itu, saya ketemu cewek
lumayan oke. Awalnya saya tidak tertarik sama sekali padanya karena merasa dia
bukan tipeku, tapi lama kelamaan kok klepek-klepek. Ya mungkin karena terjebak
pada kesempatan emas, situasi yang entah bagaimana kami mulai saling suka.
Seberapa suka di antara kami, saya sendiri tidak tahu.
Hubungan kami tidak bertahan lama, mungkin karena efek LDR
sehingga tidak bisa saling memahami atau karena terdapat ketidakcocokan yang
sebelumnya sedikit diabaikan dan akhirnya terdapat momentum yang membuat kami
sadar sepenuhnya bahwa kami benar-benar tidak cocok.
Saya sih yang ditinggalkan, tapi bukan itu intinya. Intinya
adalah kami tidak jodoh, dia sudah menikah sekarang dengan teman kelasnya dan
saya masih jomblo. Kemudian hari saya juga menyadari bahwa ada di antara kami
yang sebenarnya tidak cocok, termasuk dalam hal prinsip hidup.
Satu prinsip hidup yang tidak selaras bisa membuyarkan
banyak hal walaupun kita memiliki banyak kesamaan. Ingat kata Tulus, “Kukira
kita ‘kan bersama, begitu banyak yang sama, latarku dan latarmu” tapi
bagaimanapun kami adalah asam dan garam.
Kisah cinta ini sedikit menguras tenaga dan pikiran saya
untuk fokus pada kerja-kerja akademik saya. Saya yang hanya tinggal sendiri di
kos, semakin membuat saya semakin frustasi. Untungnya, ada teman lama saya yang
datang ke saya dan tinggal sekamar dengan saya untuk beberapa bulan. Dia adalah
teman yang andal untuk berdiskusi dan membaca sholawat bersama. Sejak itu,
pikiran saya mulai lebih tenang.
Bagaimana saya mengelola frustasi saya di tengah tugas-tugas
kampus dan kerja-kerja kantor saya?
Saya perbanyak jalan kaki sambil bengong dan merenungi
banyak hal. Saat itu saya seperti seorang sufi yang mencari cahaya ilahi. Kalau
di dalam kamar, saya banyak membaca buku dan jurnal.
Saat membaca buku atau jurnal, pikiran saya lebih sibuk
untuk sekadar memikirkan cinta-cintaan, tetapi saat berhenti membaca, pikiran
“kotor” itu kembali lagi, tapi mau lanjut membaca, pikiran saya juga sudah
pening. Setidaknya, setiap hari saya menargetkan baca minimal dua jurnal lalu
buku. Saya harus membagi waktu untuk masak dan beres-beres kamar setiap hari
dan istirahat.
Saat sendiri, saya juga sering menulis pikiran gelisah saya
di blog. Waktu itu, saya ingin meditasi dengan menulis. Cara ini juga cukup
berhasil.
Tidak semua pertemuan ini menghasilkan cerita sedih, ada
cerita baiknya. Saya sedikit mendapat inspirasi tema disertasi saya berkat
punya hubungan dengan cewek ini. Dia cukup pintar untuk membahas beberapa isu.
Saya sedikit terbantu atas kehadirannya.
Mungkin ini juga bagian dengan apa yang disebut “bersama
kesulitan ada kemudahan”. Alhamdulillah.
Dulu saya selalu berpikir, saya ingin dekat dengan orang yang pintar, biar kalau kami putus, paling tidak saya bisa mendapatkan ilmunya.
Doktrin ini sepertinya sudah saatnya untuk diubah. Kali ini,
saya ingin bersama seseorang karena panggilan jiwa, serta niat lillahi
ta’ala. Ini mungkin akan dianggap klise oleh sebagian orang, tapi semoga
ini menjadi niat tulus saya.
Apakah kisah saya berakhir? Tenang, masih ada kegagalan lain
yang masih bisa saya ceritakan.
Saya coba diperkenalkan dengan seorang perempuan oleh teman
saya, CV-nya bagus, lumayan untuk dikenali lebih lanjut—saya telah beberapa
kali berusaha dijodohkan oleh teman-teman saya tapi tampaknya belum ada yang
berhasil.
Pola percintaan saya sudah tidak bisa seperti sebelumnya
lagi, saya sudah umur 30 tahun. Saya lebih memilih jalur cinta yang lebih
realistis dari sebelumnya.
Saya mencoba bertemu dengannya. Saya pikir, mungkin ini
jodoh saya, tapi dengan berbagai pertimbangan, kali ini sepertinya bukan jodoh
saya lagi meski telah berusaha sedemikian rupa.
Kali ini saya tidak ditinggal nikah seperti sebelumnya,
tetapi berbagai pertimbangan yang membuat kami tidak bisa bersama. Kami cukup
sebagai teman. Dan kali ini untuk ketiga kalinya, saya wisuda dalam keadaan
jomblo lagi.
Ternyata, tingginya tingkat pendidikan, belum tentu selaras
dengan tingginya tingkat kesuksesan dalam percintaan. Secara tingkat
pendidikan, saya seorang doktor, tetapi bab cinta, saya masih sekelas anak
PAUD.
Saya tak ada dendam untuk mereka semua, para mantan-mantan
saya, semoga mereka juga pada saya dan memaafkan segala kesalahan saya. Saya di sini hanya berdoa, semoga mereka semua
hidup damai dan tenteram dengan pilihan mereka masing-masing.
Komentar
Posting Komentar