Tertawa dan menangis bersama Al-Quran
Oleh: Moh. Tamimi
Judul Buku: Tertawa Bersama Al-Quran, Menangis Bersama Al-Quran
Penulis: Hasan Tasdelen
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2014
Tebal: 239 Halaman
ISBN: 978-602-1687-02-4
Sesungguhnya Dialah yang menjadkan manusia tertawa dan menangis Q.S. al-Najm: 43)
Ayat di atas telah menjelaskan secara gamblang bahwa hanya Allah-lah yang menjadikan manusia tertawa dan menangis. Tertawa dan menangis adalah tabiat manusia yang pasti semua manusia akan mengalami. Walaupun, terkadang pengertian tertawa dan menangis selalu diartikan negative.
Padahal demikian, tertawa suatu ketika akan menjadi perbuatan ukhrawi. Walaupun, sebagian kalangan menyatakan bahwa banyak tertawa adalah merupakan perbuatan yang akan menjerumuskan kita ke dalam neraka, dengan analogi sebaga berikut; Barang siapa yang banyak tertawa, maka jeleklah tabiatnya. Barang siapa yang jelek tabiatnya, maka akan hitamlah hatinya. Barang siapa yang hitam hatinya maka keraslah hatinya. Barang siapa yang keras hatinya, maka nerakalah tempatnya. Namun, bukan tertawa yang demikian yang dimaksud penulis buku ini, melainkan tertawa seperti tertawanya Nabi Sulaiman ketika mendengar perkataan semut supaya masuk sarangnya saat rombogan Nabi Sulaiman berjalan. Sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Ahqaf ayat 15. (Hlm. 20)
Demikian juga dengan menangis, menangis yang dimaksud penulis buku ini bukan menangis yang berlarut-larut dalam kesedihan antar sesama yang tak kunjung reda. Melainkan tangisan yang mengantarkan kita untuk lebih dekat kepada Allah S.W.T., seperti halnya Nabi, Sahabat, Tabiin, dan lain-lainnya ketika al-Quran dibacakan terhadap mereka, mereka terharu, takut, sedih dan lain sebagainya sehingga menangis. Dan pula, tangisan yang dimaksud penulis buku ini adalah tangisan kasih sayang, seperti halnya tangisan kasih sayang Nabi Muhammad kepada anaknya, Ibrahim.
Buku ini adalah kumpulan kisah lucu,cerdas dan menyedihkan yang diambil dari khazanah klasik yang tak terlepas dengan ayat-ayat al-Quran yang dikutipkan. kecuali sangat sedikit. Setiap kutipan ayat al-Quran diberi catatan kaki supaya pembaca bisa membedakan perkataan yang dikatakan tokoh dalam cerita bahwa yang dikataka adalah ayat al-Quran atau bukan. Walaupun, dalam memasukkan ayat al-Quran dalam suatu cerita dperselisihkan kebolehannya. Menurut sebagian ulama, kutipan terbagi menjadi tiga kategori. Pertama, kutipan yang diterima, seperti kutipan dalam khutbah. Kedua, kutipan yang diperbolehkan (mubah) sepert kutipan yang digunakan dalam surat, pidato, cerita. Ketiga, kutipan yang dilarang, yaitu kutipan seseorang yang mengutip ayat al-Quran yang dinisbatkan kepada dirinya. Seperti tulisan salah satu khalifah Umayyah yang mengutip ayat sungguh kepada kamilah mereka kembali, kemudian sesungguhnya (kewajiban) kamilah membuat perhitungan atas mereka. Apabila dalam cerita terdapat istilah-istilah khusus, dikasih keterangan di bagian catatan kaki, dan juga, jika terdapat nama tokoh penting, penulis juga memberikan riwayat tokoh seputar tahun kelahiran dan tokoh bidangnya.
Dalam buku ini, terbagi dua bagian. Bagian pertama adalah cerita-cerita lucu yang membuat kta tertawa. Sedangkan bagian kedua adalah kumpulan cerita-cerita tentang kesedihan dan tangisan.
Buku ini pantas diapresiasi oleh semua kalangan karena cerita-certia yang terkandung di dalamnya terdiri dari berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari kalangan khalifah sampai rakyat jelata.
Namun, sedikit disayangkan. Dalam buku ini tidak ada bulan penerbitan. Padahal, bulan penerbitan sangat dibutuhkan, terutama oleh seorang peresensi, karena hal itu juga menentukan resensinya akan dimuat atau tidak.
*Penulis adalah mahasiswa INSTIKA jurusan Pendidikan Bahasa Arab
Komentar
Posting Komentar