Malaikat Pelacur
Oleh: Moh. Tamimi*
"Aku harus bagaimana untuk mengeluarkan Fitrah dari lingkaran syaitan prostitusi itu?" Tanyaku pada diriku sendiri.
Aku telah lama terpisah jauh dengan adik perempuanku, Fitrah. Adikku yang masih berumur 18 tahun saat terakhir kita berpisah. Fitrah, dahulu, dibawa oleh seorang rentenir sebagai bentuk ganti pembayaran hutang ibuku yang terus berlipat itu. Bunga hutang yang harus dibayar ibuku jauh melebihi nominal uang yang dipinjam. Akhirnya, adikku satu-satunya itu menjadi korban ketamakan rentenir. Sejak saat itu, aku tak tahu lagi kemana rentenir itu membawa adikku pergi.
Sekarang, setelah satu tahun lebih, aku menemukan jejak adikku walau masih bias karena aku hanya melihatnya sekilas, namun aku yakin bahwa orang yang aku lihat itu adalah Fitrah. Aku tak mungkin melupakan wajah adikku, yang dulu, penuh ceria. Keceriaannya semakin menambah aura kecantikannya dan menambah kebahagiaan keluarga kami yang sejak kecil ditinggal sosok seorang ayah. Ibuku menyusul kepergian ayah karena beliau merasa sangat bersalah atas kehilangan Fitrah dan beliau merasa sangat merasa gagal menjadi seorang ibu yang baik karena tak mampu menjaga anak-anaknya dengan baik. Kefrustasian ibuku mengiringinya kepada kematian.
"Seorang guru karena mencubit muridnya dipenjara." Lamunanku buyar seketika ketika kata itu muncul di layar kaca TV. Seorang presenter itu menjelaskan kronologi kejadian itu sehingga semakin memecah keheninganku. Waktu itu, seolah ada sesuatu menelusup ke pikiranku. Sebuah ide yang, menurutku, cukup cemerlang untuk membebaskan adikku dari lingkaran prostitusi. Mengingat, mengeluarkan seseorang dari kungkungan prostitusi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kerja keras dan kerja cerdas untuk membebaskan seseorang dari jeratan dunia prostitusi.
"Mencubit saja dipenjara, apalagi lebih dari itu!" gumamku dalam hati.
Keesokan harinya, aku bergegas ke tempat dimana aku sekilas melihat keberadaan adikku. Ia ada di sebuah gang yang terdapat rumah kaca--rumah yang sisi luarnya berupa kaca--yang lebardi setiap kanan dan kirinya untuk memamerkan setiap lekuk tubuh wanita dan seluruh aura kecantikannya. Salah satunya adalah memamerkan kecantikan adikku. Aku sudah mempersiapkan seluruh perbekalan untuk memuluskan rencanaku. Aku datangi rumah kaca itu. Ternyata benar, adikku ada di sana. Saat itu aku berpura-pura menjadi budak seks yang hadir untuk membeli kenikmatan hasrat yang tersedia di setiap tubuh wanita dalam rumah itu.
Aku langsung menuju adikku dengan ekspresi seperti orang yang tidak tahan menahan nafsu. Adikku tertegun ketika melihat orang yang berjalan mendekatinya adalah aku, kakaknya. Mulutnya setengah terbuka, tertegun. Aku memberikan isyarat telunjuk di bibir agar ia menahan diri supaya tidak menyebut sedikit pun identitasku, apalagi aku adalah kakaknya.
"Hai gadis cantik, berikan malammu padaku!" godaku pada Fitrah dengan logat khas pria hidung belang. Ia menarikku manja. Ia tersenyum penuh kebahagian dan kecemasan. Setelah memenuhi prosedur mucikari, tibalah aku dan adikku dalam sebuah kamar penuh pesona.
"Kakak, aku kangen sekali padamu kak! Aku tersiksa." Ia menangis dan memelukku erat.
"Tenanglah Fitrah, aku datang untuk menolongmu. Membebaskanmu dari lingkaran syaitan ini." Fitrah masih tetap erat dalam tubuhku.
Air matanya terus mengalir membasahi bahuku. Rasa rindu yang tak tertangguhkan itu tak terwakili hanya dengan sebatas kata-kata.
"Apa yang akan kakak lakukan? Mustahil kak keluar dari tempat ini," Fitrah berkata lirih sambil membuka pelukannya, pelan.
"Tidak ada yang tidak mungkin Fitrah. Aku mungkin tidak bisa membebaskanmu sebagaimana kebebasanmu dahulu ketika masih tinggal bersama kakak dan ibu. Akan tetapi, paling tidak, kakak bisa memindahkanmu ke tempat yang lebih aman dari jamahan para pria bangsat dan, paling tidak pula, batinmu lebih tenteran daripada sekarang. Ikuti saja rencanaku." Kujawab pertanyaan Fitrah dengan penuh keyakinan dan meyakinkannya bahwa masih ada secercah harapan untuk bisa pergi dari tempat perdagangan manusia itu.
Aku membisikkan sesuatu, supaya lebih meyakinkan hatiku bahwa tidak ada orang lain yang mendengar perkataanku, sekenario yang harus kita jalani.
Aku terus memaparkan panjang lebar sandiwara yang harus kita jalani kepada Fitrah.
"Kamu mengerti?" Tanyaku.
"Mengerti kak, tetapi," ia melanjutkan," apakah kakak yakin ini akan berhasil?"
"Kita harus yakin dan harus bisa! Seorang guru mencubit muridnya saja dipenjara kok, apalagi lebih dari itu," jawabku.
Aku terus meyakinkan Fitrah bahwa dia bisa keluar dari tempat itu dan dia bisa hidup lebih layak daripada menjadi pelacur.
Aku menyuruh Fitrah cepat melakukan adegan sebagaimana saya instruksikan kepadanya. Dia menamparku, memukulku dengan keras. Aku tak memberikan perlawanan kepadanya meskipun di pelipis mataku luka memar karena pukulan Fitrah. Lebih lanjut, Fitrah mengambil sebilah pisau yang menancap di sebuah apel yang terletak di atas meja. Ia menggores lenganku, walaupun sedikit, darah menetes dari luka goresan itu.Aku cepat keluar kamar dengan menahan sakit di pelipis mata dan luka goresan di lengan kiri. Aku berjalan menyusuri lorong-lorong rumah bordil itu.
Sekeluar dari rumah bordil itu, aku bergagas ke kantor polisi, melaporkan semua yang telah dilakukan Fitrah kepadaku. Aku meminta surat rekomendasi visum ke pihak kepolisian di sana. Aku tahu, jika aku langsung pergi ke rumah sakit dan langsung berobat ke dokter, maka statusku tak lain adalah sebagai pasien. Akan tetapi, jika saya ke kantor polisi dahulu untuk melaporkan dan meminta surat rekomendasi visum, maka statusku bukan lagi sebagai pasien melainkan korban, korban kekerasan yang dilakukan Fitrah kepadaku. Surat visum itu bisa menguatkan status hukumku nanti di pengadilan saat proses penghakiman atas perlakukan Fitrah kepadaku, menganiaya dan melukai diriku. Siapa yang tidak akan menjamin kemenanganku di pengadilan jika bukti sangat kuat itu ada di depan mata. Bisa dipastikan pula, nanti, Fitrah akan dijebloskan ke penjara dengan waktu yang setimpal atas perlakuannya padaku.
Pengadilan dilangsungkan. Fitrah tidak bisa mengelak dari tuntutanku dan pada akhirnya ia mengaku bahwa telah melukaiku dengan sengaja di depan hakim. Memang itulah yang saya inginkan. Fitrah dipenjara. Jika Fitrah dipenjara, maka, boleh tidak boleh, Fitrah harus keluar dari tempat jahanam itu.
Selang beberapa hari, saya membesuk Fitrah di penjara.
"Inilah yang kakak maksud?" tanyanya padaku.
"Iya Fit, dengan kamu dipenjara seperti ini, kamu tidak lagi harus melayani para pria hidung belang. Kamu telah terbebas dari keberingasan nafsu birahi. Di sini, kau tinggal menghitung tahun untuk bisa menikmati hidup sebagaimana mestinya dan tentunya, semua itu, butuh kesabaran yang kuat."
Fitrah memeluk erat tubuhku, ia terus tenggelam dalam tubuhku dan airmatanya menetes, air mata haru dan bahagia.
"Terimasah kak, saya sekarang sudah mengerti jalan pikiran kakak. Saya tidak tahu bagaimana nasibku jika tidak bertemu kakak," ungkapnya lirih.
Pertemuan singkat kita berakhir, seiring waktu besuk sudah berakhir. Aku kembali melangkahkan kakiku menyusuri jalan pulang. Terus mengejar waktu demi pertemuan kebahagiaan bersama, bersama keluarga kecilku.
Akkor, Palenga'an, Pamekasan, 9 Juni 2016
Komentar
Posting Komentar