Kedudukan Perempuan dalam Islam Menurut HAMKA

Oleh: Moh. Tamimi*

Judul Buku: Buya Hamka Bicara Masalah Perempuan
Penulis: Prof. Dr. HAMKA
Cetakan: Pertama, 2014
Tebal: viii+136 Halaman
ISBN: 978-602-250-236-4
Sebelum Islam hadir, kedudukan perempuan sangat termarginalkan. Perempuan dianggap makhluk aib. Kelahiran seorang perempuan tidak pernah menjadi harapan. Sehingga, tidak jarang, bahkan sudah menjadi keharusan bagi orang-orang jahiliyah mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Perempuan tidak memiliki hak waris. Bahkan, perempuan adalah warisan itu sendri.
Ketika Islam Hadir, perempuan tidak lagi termarginalkan. Sebagaimana pada masa pra Islam. perempuan sangat dimuliakan dalam Islam. banyak sekali ayat-ayat al-Quran maupun hadis yang mengintruksikan agar memuliakan perempuan. Diantara sekian banyak ayat-ayat al-Quran yang menjelaskan tentang kemuliaan perempuan adalah Q.S. at-Taubah: 71-71, Luqman: 14, al-Isra:23. Dan dalam suatu hadis dijelaskan bahwa ada seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi Muhammad Saw. Siapakah yang harus ia muliakan? Nabi menjawab ibumu sampai tiga kali, baru yang ke empat adalah ayahmu.
Demikian pula peran perempuan pada masa Nabi dalam menyebarkan agama Islam. sangat diperhitungkan. Sehingga, sangat tidak keliru dikatan bahwa perempuan adalah tiang Negara. Jika perempuan-perempuan di suatu Negara baik. Maka, baik pulalah negaranya. Kedudukan laki-laki dan perempuan sama-sama penting. Hanya saja, ada batasan-batasan yang harus diperhatikan antara peran laki-laki dan perempuan supaya tidak kebablasan. Perlu kiranya pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan. Bukan  berarti karena laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama, pekerjaan yang hanya bahu laki-laki yang kuat memikulnya, perempuan disuruh juga memikulnya.
Sebagai laki-laki atau suami, sudah sepantasnya ia menafkahi keluarganya, sebagai perempuan yang sholehah, sudah sepantasnya taat kepada Allah, menjaga diri ketika suaminya tdak ada. Sebagaimana diterangkan dalam surat an-Nisa ayat 34.
Menurut HAMKA, rumah tangga bagaikan kapal yang berlayar di lautan, ombak bersabung di buritan, tali temali berentangan, layar berkipas kiri dan kanan, seorang tegak di kemudi, seorang tegak di haluan. Jika keduanya  sama pandai, selamat sampai tujuan. Jika keduanya tidak bijak atau salah seorang tidak bestari, karam di tepi kapal itu, tidaklah sampai tujuan. (Hlm. 22)
Hamka sangat lihai dalam menerangkan kedudukan perempuan dalam Islam dan perempuan yang seharusnya.. dengan disertai cerita-cerita para perempuan di masa Nabi untuk kita teladani. Sebagaimana peran Siti Khotijah ketika Nabi mendapatkan wayu pertama dan peran Ummu Salamah, istri Nabi, yang memberi masukan kepada Nabi ketika pengikut Nabi Muhammad enngan mencukur rambut saat melaksanakan ibadah  haji.
Lebih lanjut, HAMKA membahas kerancuan pemikiran yang memang dengan sengaja disusupkan secara halus oleh orang-orang orientalis, dan sebagainya telah berhasil mempengaruhi cendikiawan muslim Indonesia. Diantaranya adalah Mr. Wirjono Prodjodikoro dan Dr. H. Abdoerrouf, S.H..
Sudah sepantasnya buku ini diapresiasi demi keluasan kita  dalam memahami Gender yang terkadang kebablasan dalam menyuarakan kesetaraan.

*Penulis adalah mahasiswa INSTIKA jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menertawakan Luka

Tarekat Qadiriyah

Pendidikan Sosial