Memahami Islam Nusantara
Oleh: Moh. Tamimi*
Judul: Islam Nusantara; Dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan
Penulis: K.H. Abdurrahman Wahid dkk.
Tebal: 344 halaman
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, 2015
ISBN: 978-979-433-895-7
Berbicara Islam Nusantara, sudah tidak asing lagi bagi kita terutama kaum nahdliyin. Apalagi semenjak semakin dipopulernya frase Islam Nusantara dengan dijadikan tema muktamar NU ke-33 di Jombang pada Agustus (2015) lalu. Islam nusantara merupakan perluasan dari istilah "Pribumisasi Islam" yang dikemukakan oleh mendiang Gusdur.
Pada bagian awal buku ini, kita akan disuguhkan tulisan Gusdur yang berjudul "Pribumisasi Islam." Menurut Gusdur, "Apa yang ada tetap dipertahankan tetapi mesti ditambah dan diperjelas dengan wawasan-wawasan baru. Dengan kata lain semua kelompok masyarakat bertanggung jawab terhadap proses pribumisasi Islam dalam arti mengokohkan kembali akar budaya kita, dengan tetap berusaha menciptakan masyarakat yang taat beragama." (hlm. 48)
Dalam menguatkan argumennya, Gusdur memberikan contoh salah satu tokoh wali songo, Sunan Kalijaga, masjid Demak yang mempunyai atap 'Ronggo' diambil dari konsep 'Meru' dari masa pra Islam (Hindu-Budha) yang terdiri dari sembilan susunan. Dalam susunan itu, dipotong oleh Sunan Kalijaga menjadi tiga yang melambangkan tiga tahap keberagaman seorang muslim, iman, Islam, ihsan.
Membaca buku ini, wawasan saya terbuka mengenai arti penting Islam Nusantara atau istilah Gusdur 'Pribumisasi Islam' atau paling tidak, dalam kontek Indonesia dikatakan 'Meng-Indonesiakan Islam' bukan 'Meng-Islamkan Indonesia.'
Kewajiban bagi kita untuk cinta tanah air, bukan sekedar cinta agama. Pengislaman Indonesia yang sering dikoar-koarkan oleh beberapa kelompok saat ini hanya mempertegang keadaan bangsa, bukan malah semakin damai. Mereka berpandangan hanya sekedar "cinta agama" tetapi membuang jauh-jauh "cinta tanah air". Apabila tidak ada tanah tempat berpijak untuk menyembah kepada Allah, maka dimana mereka akan melangsungkan ibadah.
Demikianlah kira-kira pesan yang terkandung dalam buku ini. Buku ini, membahas Islam Nusantara dari berbagai sudut pandang. Mulai dari sudut pandang Ushul Fiqh hingga sudut pandang kebangsaan. Dengan kata lain membahas korelasi antara bangsa, Islam dan tanah air.
Kehadiran buku ini semoga memberikan khazanah keislaman yang semakin mendalam, sehingga tidak serta merta cepat mencap buruk sesuatu permasalah yang berkaitan tentang budaya dan agama.
Judul: Islam Nusantara; Dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan
Penulis: K.H. Abdurrahman Wahid dkk.
Tebal: 344 halaman
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, 2015
ISBN: 978-979-433-895-7
Berbicara Islam Nusantara, sudah tidak asing lagi bagi kita terutama kaum nahdliyin. Apalagi semenjak semakin dipopulernya frase Islam Nusantara dengan dijadikan tema muktamar NU ke-33 di Jombang pada Agustus (2015) lalu. Islam nusantara merupakan perluasan dari istilah "Pribumisasi Islam" yang dikemukakan oleh mendiang Gusdur.
Pada bagian awal buku ini, kita akan disuguhkan tulisan Gusdur yang berjudul "Pribumisasi Islam." Menurut Gusdur, "Apa yang ada tetap dipertahankan tetapi mesti ditambah dan diperjelas dengan wawasan-wawasan baru. Dengan kata lain semua kelompok masyarakat bertanggung jawab terhadap proses pribumisasi Islam dalam arti mengokohkan kembali akar budaya kita, dengan tetap berusaha menciptakan masyarakat yang taat beragama." (hlm. 48)
Dalam menguatkan argumennya, Gusdur memberikan contoh salah satu tokoh wali songo, Sunan Kalijaga, masjid Demak yang mempunyai atap 'Ronggo' diambil dari konsep 'Meru' dari masa pra Islam (Hindu-Budha) yang terdiri dari sembilan susunan. Dalam susunan itu, dipotong oleh Sunan Kalijaga menjadi tiga yang melambangkan tiga tahap keberagaman seorang muslim, iman, Islam, ihsan.
Membaca buku ini, wawasan saya terbuka mengenai arti penting Islam Nusantara atau istilah Gusdur 'Pribumisasi Islam' atau paling tidak, dalam kontek Indonesia dikatakan 'Meng-Indonesiakan Islam' bukan 'Meng-Islamkan Indonesia.'
Kewajiban bagi kita untuk cinta tanah air, bukan sekedar cinta agama. Pengislaman Indonesia yang sering dikoar-koarkan oleh beberapa kelompok saat ini hanya mempertegang keadaan bangsa, bukan malah semakin damai. Mereka berpandangan hanya sekedar "cinta agama" tetapi membuang jauh-jauh "cinta tanah air". Apabila tidak ada tanah tempat berpijak untuk menyembah kepada Allah, maka dimana mereka akan melangsungkan ibadah.
Demikianlah kira-kira pesan yang terkandung dalam buku ini. Buku ini, membahas Islam Nusantara dari berbagai sudut pandang. Mulai dari sudut pandang Ushul Fiqh hingga sudut pandang kebangsaan. Dengan kata lain membahas korelasi antara bangsa, Islam dan tanah air.
Kehadiran buku ini semoga memberikan khazanah keislaman yang semakin mendalam, sehingga tidak serta merta cepat mencap buruk sesuatu permasalah yang berkaitan tentang budaya dan agama.
Komentar
Posting Komentar