Jejak Islam di Amerika Serikat
Oleh: Moh. Tamimi*
Judul: Bulan Terbelah di Langit Amerika
Penulis: Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit: Gramedia
Cetakan: I, 2014
Tebal: 344 halaman
ISBN: i978-603-03-0545-5
Membaca novel ini mengubah perspeksi saya tentang Amerika Serikat. Dalam benak saya, Negara Amerika Serikat adalah negara liberal seliberal-libaralnyanya dan sekuler sesekuler-sekulernya. Hanum dan Rangga telah melakukan rekam jejak di benua itu dan mendapatkan sebuah hasil yang mengagungkan terutama tentang khazanah keislaman di Negara tersebut.
Hal itu terbukti ketika Hanum mengetahui bahwa patung yang berada di dinding Supreme Court atau Mahkamah Agung Amerika Serikat, tempat pengadilan tertinggi di negeri itu terdapat patung wajah Nabi Muhammad Saw. Yang melambangkan patron keadilan di Amerika Serikat. Hanum sempat berpikir bahwa itu adalah penghinaan besar terhadap Islam karena telah mengilustraskan sosok wajah junjungan orang Islam, Nabinya orang Islam yaitu Nabi Muhammad Saw.. Wajar Hanum beranggapan demikian karena dalam Islam sendiri dilarang melukis, menggambar maupun membuat patung Nabi Muhammad Saw.. Akan tetapi, hal itu melunak setelah ia mengetahui bahwa orang amerika mengetahui dan menyadari tentang keadilan Sang Nabi, walaupun di sana bukan mayoritas Islam layaknya di Indonesia.
Dalam kontek sejarahnya diketahui sebuah dokumen bernama The Sung Document dari Dinasti Song Cina tahun 1178 bermaklumat bahwa pelaut-pelaut muslim telah berlayar jauh sampai daratan baru yang sepi manusia. Mereka menamanakanya Mu Lan Pi.
Setelah dua ratus tahun kemudian, pelayaran di bwah pimpinan Admiral Zhou Man, seorang anak didik tokoh Islam di Cina yaitu Laksamana Muslim Cheng Ho, terseret gelombang Laut Jepang sampai ke selatan Alaska dan berakhir di daratan yang sama. Kini Mu Lan Pi menjelma menjadi daerah bernama California, Amerika Serikat. (hlm. 01)
Setelah menyukseskan novel "99 Cahaya di Langit Eropa" sepasang kekasih ini telah mensukseskan novel ini dan tidak kalah menariknya dengan karya sebelumnya.
Novel ini layak dibaca berbagai kalangan, mengingat bahasanya yang renyah, mudah dimengerti dan penuh khazanah keislaman yang terkandung di Benua Amerika.
*Penulis adalah mahasiswa INSTIKA Guluk-guluk sumenep dan aktif di komunitas Rumah Kita.
Komentar
Posting Komentar