Pagi di As-Salam



Hai Perempuanku, malam ini aku menginap di Kebun Konservasi As-Salam. Senang aku bisa melihatmu kemarin. Mungkin itu yang terakhir dalam minggu ini. Maaf, aku tak bisa menyapamu lebih baik dari itu. Aku mendapat ilmu banyak di sini, walau kadang aku ngantuk saat pematerian. Maklum lah, diburu rasa bosan.

Di sini, aku tidak benar-benar sepi. Ada banyak kawan baru, ada suara alam, ada dirimu dalam ingatanku. Kamu sudah mau berangkat, yaa, selamat jalan, sampai jumpa pagi.

Aku akan ke Pantai Sembilan, Gili Genting, hari Senin, Insyaallah. Agendaku jalan-jalan,  liputan, dan menemui Sri. Hahaha. Jangan cemburu dong, aku padamu. Wkwk.

Aku sedikit masuk angin, sejak kemarin sebelumnya. Hari Rabu, saya liputan ke Pamekasan, Wisata Puncak Ratu dan TPA Angsana. Saat di jalan, aku melihat penambangan batu, aku foto, aku dipanggil-dipanggil oleh pekerja (aku kira begitu), lalu aku kabur. Sebenarnya bukan untuk diliput cuma untuk dokumentasi saja.

Kembali ke acara, aku biasanya ngantuk kalau sudah pematerian. Untung saja, ada sesi diskusi. Dibentuk tiga kelompok untuk mengidentivikasi masalah ekologi di sekitar kita, dicari penyebabnya, akibatnya, dan langkah-lanhkah strategis menghadapinya. Aku tampil pertama, aku kelompok dua sebenarnya, aku semangat untuk maju, selain untuk mengatasi rasa kantukku, untuk cari muka juga. (Aku ingin tertawa saat menulis ini, tapi kucukupkan untuk senyum-senyum sendiri saja)

Aku tidak merasa asing ditempat ini. Aku menemukan jejak langkahmu, terkenang bahwa kita pernah berjumpa di tempat ini, sekilas dan mengesankan. Kalau kamu bisa lebih lama di sini, mungkin tulisan ini akan lebih panjang.

Aku kenal beberapa teman baru, Ghafur, Adil, Zaenul, Sobri, Kancil, Rere, Ucup, dan siapa ya, aku lupa nama-namanya. Aku selali kesusahan mengingat nama. Ada banyak cewek cantik di sini, kamu gak mau pakek adegan-adegan cemburu-cemburu gitu toh, kayak di film-film. Ah, tapi kamu sudah percaya padaku kan ya, gak bakal gitu-gituan laah, kalau maaih kuat. Haha.
Aku tidak tahu bahwa acara ini akan nginap, gak ada persiapan sama sekali, mungkin aku tidak akan mandi seharian ini.

Suara jangkrik dan burung-burung di sini tak ada bedanya dengan di rumahku, suaranya sama. Akan tetapi, pikiranku terkhayal tentang sebuah negeri dongeng, ada kastildi tengah belantara, atau sebuah gubuk kecil di perbukitan. Terkadang, pikiranku terkhayal pada sebuah pedepokan perguruan silat, tempat yang menyepi dari keramaian. Dari situlah akanlahir pendekar-pendekar sakti mandraguna dengan berbagai jurus-jurus andalanku.

Beb, nanti ketika teman-temanmu sudah pulang dari sini, kamu gali cerita tentangku pada mereka tentang bagaiman aku merindukanmu. Ini bukan puisi, bukan sekelas sastra. Ini kata-kata biasa. Tidak semua kaya yang mempunyai pola tipografi adalah puisi.

Pondok As-Salam, Jum’at, 24 Januari 2020 05. 25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menertawakan Luka

Tarekat Qadiriyah

Pendidikan Sosial