Peran Nalar terhadap Perilaku Manusia
Judul: Batas Nalar
Penulis: Donald B. Calne
Penerjemah: Parakitri T. Simbolon
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan: April 2018
Tebal: xv + 324 halaman
ISBN: 978-602-424-330-2
Semenjak Homo Sapiens muncul dalam bentuk purba sekitar 400.000 tahun silam dan dalam bentuk modern sekitar 200.000 tahun yang lalu (hlm. 61), nalar berpikirnya terus berkembang dari waktu ke waktu, seiring dengan ukuran otaknya yang semakin membesar. Akan tetapi, basar-kecil ukuran otak manusia, tidak menjamin daya nalarnya lebih tajam dari yang lainnya.
Buku ini membahas tentang sejarah perkembangan nalar semenjak ditemukanya peradaban manusia pada ratusan ribu tahun yang lalu, dari masyarakat pemburu-pengumpul, era zaman batu, era revolusi pertanian sampai zaman modern seperti sekarang ini.
Bagaimanapun, menurut Donal B. Calne yang merupakan Ahli neorologi di the University of British Colombia ini, nalar tetap bersifat netral secara moral, karena nalar dapat digunakan sama hebatnya untuk mempertahankan hidup lewat apa saja, lewat ilmu kesehatan, peningkatan mutu pangan, penyedian bahan bakar.
Nalar tidak pandang bulu terhadap apapun, digunakan siapa saja yang dapat menguasainya (hlm. 72). Ia hanya memenuhi tugasnya untuk melakukan hipotesis-hipotesis dan menganalisis suatu keadaan.
Dalam masa perang, contohnya, nalar dikerahkan untuk merencanakan taktik-taktik yang jitu dan merancang senjata pemusnah yang lebih hebat (hlm. 77). Sebelum ditemukannya senjata-senjata canggih pembunuh massal, perang hanya terjadi di komunitas tertentu yang melibatkan, paling banyak, ratusan orang. Akan tetapi, dengan kemampuan nalar yang luar biasa, usaha-usaha untuk memenangkan sebuah peperangan terus dikembangkan, baik taktik berperang atau alat-alat perang.
Homo sapiens, dalam hal berilaku sosial kemasyarakatan, menyerupai berbagai kawanan hewan, seperti, harimau, kera, semut, dan simpanse. Hewan-hewan itu hidup dalam sebuah komunitas yang saling melindungi satu sama lain, memburu, menetap, dan berkembang biak dalam sebuah komunitas yang memiliki rasa solidaritas kebersamaan yang tinggi. Namun, dari beberapa hewan yang berhasil di telusuri oleh Donal, Simpanse adalah gerombolan hewan yang lebih menyerupai homo sapiens dalam hal sosial.
Para simpanse akan memberikan sinyal bahaya terhadap kawanannya apabila salah satu atau sebagian simpanse mendeteksi adanya bahaya, sehingga para simpanse yang lain akan merespon langsung dengan mengambil tindakan yang seharusnya. Meraka mempunyai bahasa atau perilaku tersendiri untuk berkomunikasi dengan teman-temannya, entah itu pertanda aman atau bahaya.
Tidak heran apabila dua ribu tahun lalu Seneca, orang Romawi yang jago pidato, menulis bahwa “manusia adalah binatang bernalar”. Pada tahun 1677 Spinoza mencanangkan bahwa “manusia adalah binatang bernalar” (hlm. 52). Didukung dengan penemuan-penemuan para peneliti modern yang menemukan kesamaan-kesamaan perilaku antara binatang dan manusia.
Donal B. Calne, hampir dalam setiap pembahasan di sub judul bukunya ini, di bagian awal selalu diawali sejarah yang bersangkut paut dengan pembahasan, lebih banyak tentang sejarah peradaban purba, dan dibandingkan diperilaku hewan yang serupa, yang pada akhirnya ditarik pada inti pembahasan, baik tentang etika, niaga, perilaku sosial, dan lain-lain. Sebagai seorang ahli neorologi, tentunya batasan-batasan nalar dilihat dari sudut pandang seorang neorog.
Dalam masa perang, contohnya, nalar dikerahkan untuk merencanakan taktik-taktik yang jitu dan merancang senjata pemusnah yang lebih hebat (hlm. 77). Sebelum ditemukannya senjata-senjata canggih pembunuh massal, perang hanya terjadi di komunitas tertentu yang melibatkan, paling banyak, ratusan orang. Akan tetapi, dengan kemampuan nalar yang luar biasa, usaha-usaha untuk memenangkan sebuah peperangan terus dikembangkan, baik taktik berperang atau alat-alat perang.
Homo sapiens, dalam hal berilaku sosial kemasyarakatan, menyerupai berbagai kawanan hewan, seperti, harimau, kera, semut, dan simpanse. Hewan-hewan itu hidup dalam sebuah komunitas yang saling melindungi satu sama lain, memburu, menetap, dan berkembang biak dalam sebuah komunitas yang memiliki rasa solidaritas kebersamaan yang tinggi. Namun, dari beberapa hewan yang berhasil di telusuri oleh Donal, Simpanse adalah gerombolan hewan yang lebih menyerupai homo sapiens dalam hal sosial.
Para simpanse akan memberikan sinyal bahaya terhadap kawanannya apabila salah satu atau sebagian simpanse mendeteksi adanya bahaya, sehingga para simpanse yang lain akan merespon langsung dengan mengambil tindakan yang seharusnya. Meraka mempunyai bahasa atau perilaku tersendiri untuk berkomunikasi dengan teman-temannya, entah itu pertanda aman atau bahaya.
Tidak heran apabila dua ribu tahun lalu Seneca, orang Romawi yang jago pidato, menulis bahwa “manusia adalah binatang bernalar”. Pada tahun 1677 Spinoza mencanangkan bahwa “manusia adalah binatang bernalar” (hlm. 52). Didukung dengan penemuan-penemuan para peneliti modern yang menemukan kesamaan-kesamaan perilaku antara binatang dan manusia.
Donal B. Calne, hampir dalam setiap pembahasan di sub judul bukunya ini, di bagian awal selalu diawali sejarah yang bersangkut paut dengan pembahasan, lebih banyak tentang sejarah peradaban purba, dan dibandingkan diperilaku hewan yang serupa, yang pada akhirnya ditarik pada inti pembahasan, baik tentang etika, niaga, perilaku sosial, dan lain-lain. Sebagai seorang ahli neorologi, tentunya batasan-batasan nalar dilihat dari sudut pandang seorang neorog.
Kekuatan nalar yang dimiliki manusia terus berkembang seiring berjalannya waktu serta terus mengkhayalkan sebuah kemungkinan-kemungkinan masa depan. Sebagaimana ditulis Betrand Russell yang dikutip, “Orang yang bernalar menerima hipotesis yang paling mungkin untuk sementara, sambil terus mencari fakta baru yang tidak cocok dengan hipotesis tersebut”. (hlm. 299)
*Diresensi Moh Tamimi, Mahasiswa Instika.
*Diresensi Moh Tamimi, Mahasiswa Instika.
Komentar
Posting Komentar