Kritik Sosial Madame de Villeneuve
Judul: Beauty and the Beast
Penulis: Madame de Villeneuve
Penerbit: Qanita
Tebal: 244 halaman
Cetakan: 2017
ISBN: 978-602-402-054-5
Peresensi: Moh. Tamimi*
Buku novel Beauty and the Beast yang telah berumur lebih dari empat ratus tahun karya Madame de Villeneuve ini sarat dengan kritik-kritik sosial Madame terhadap rakyat Eropa pada saat itu, meskipun terdapat berbagai macam pendapat mengenai dari mana Madame mendapatkan inspirasi tersebut, apakah dari kehidupanya sendiri yang dahulunya adalah saudagar kaya yang jatuh miskin setelah menjadi canda, apakah terinspirasi dari dari cerita-cerita rakyat Eropa yang mempunyai banyak kemiripan mengenai pernikahan seorang monster dan seorang gadis belia, atau memang terinspirasi dari kebiasaan orang Eropa saat itu yang banyak ditemui pernikahan dengan gadis belia, di bawah umur, yang telah menjadi kebiasaan orang Eropa di abad ke-17.
Terlepas dari itu semua, banyak pelajaran yang dapat diambil dari cerita dalam novel ini. Belle, tokoh utama, tidak lagi digambarkan sebagai seorang gadis yang membutuhkan bantuan seorang pangeran, sebagaimana Cinderella dan Putri Salju, tetapi Belle memainkan peran tersendiri dalam menjalani hidupnya, menentukan keputusannya sendiri untuk berkehendak, bertindak, dan memilih jalan hidupnya sesuai hati nuraninya.
Novel ini menceritakan seorang gadis belia, Belle, yang menikah dengan seorang monster yang memiliki kerajaan yang sangat besar. Pernikahan ini terjadi karena adanya perjanjian ayah Belle dengan sang Monster, Beast. Perjanjian itu terjadi karena ayah Belle terpaksa berjanji supaya ia masih bisa bertahan hidup. Kesalahan ayah Belle adalah memetik sekuntum mawar di kebun bunga milik Beast tanpa ijin, bunga itu dipetik karena permintaan Belle kepada ayahnya sebagai oleh-oleh untuknya.
Ayah Belle menuturkan semua kejadian di sebuah kerajaan besar tak berpenghuni itu, kecuali Beast, termasuk penjanjianya dengan Beast mengenai putri bungsunya itu untuk di serahkan kepada Beast. Setelah melakukan pertimbangan, Belle memutuskan untuk pergi ke kerajaan Beast demi keselamatan ayahnya dan sebuah janji yang selah dilakukan ayahnya.
Di Kerajaan Beast, Belle diperlakukan dengan sangat baik oleh Beast, selama Belle tidak kabur dari kerajaan. Beast tak pernah bicara panjang lebar dengan Belle, hanya saja ia sekali-kali datang kepada Belle dan berkata, “maukah kau menikah denganku?” (hlm. 65) menjawab pertanyaan itu, Belle cukup menjawab “Iya” atau “tidak,” apabila Belle menjawab “tidak,” sebagaima yang selalu dijawab Belle kepada Beast, terutama di awal, maka Beast akan berlalu begitu saja tanpa berkata sepatah katapun. Menurutnya itu adalah hak Belle.
Akan tetapi, selalu ada kejadian aneh saat Belle berada di kerajaan Beast itu, yaitu mengenai mimpinya yang selalu bertemu dengan sesosok pangeran yang tampan dan rupawan, entah siapa dan dari mana asal-usulnya, meminta pertolongannya. Terkadang, sosok pangeran dalam mimpinya itu dirindukan oleh Belle, walau ia hanya ada dalam mimpi, itu tampak nyata bagi Belle.
Berdasarkan cerita di atas, apabila ditarik ke ranah sosial saat ini, seolah-olah terselip pesan, “ bukan lagi jamannya untuk menempatkan seorang wanita di sangkar emas, tetapi hak-haknya dikebiri” sebagaimana Belle hidup di sebuah kerajaan yang luas, mewah, dan segala fasilitas yang serba ada, namun, walaupun demikian, ia merasa kesepian. Lagi, “wanita harus merdeka terhadap dirinya sendiri, terutama dalam menentukan sebuah keputusan” sebagaimana keputusan Belle dalam menjalani janji ayahnya dan keputasan Belle dalam menolak atau menerima cinta Beast.
Suatu pesan yang tergambar di novel ini adalah “jangan hanya menilai seseorang hanya karena rupanya, tetapi juga nilailah seseorang berdasarkan budi pekertinya,” seperti Beast yang buruk rupa, namun memiliki budi pekeri yang baik, sebagaimana ia yang tidak pernah memaksakan kehendaknya supaya cintanya diterima oleh Belle.
Novel yang telah berkali-kali diadaptasi menjadi berbagai pertunjukan opera, serial televisi, dan film layar lebar ini sarat dengan pesan-pesan moral yang wajib dibaca berbagai kalangan. Di kalangan anak-anak, mungkin, monster bisa masuk ke imajinasinya untuk menyampaikan pesan-pesan moral. Di dunia orang dewasa, banyak simbol-simbol tokoh di cerita yang patut untuk terus ditelaah lebih lanjut untuk terus menggali nilai-nilai yang terkandung dari cerita dalam novel ini. Selamat membaca!
*peresensi adalah Mahasiswa Prodi PBA, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.
Penulis: Madame de Villeneuve
Penerbit: Qanita
Tebal: 244 halaman
Cetakan: 2017
ISBN: 978-602-402-054-5
Peresensi: Moh. Tamimi*
Buku novel Beauty and the Beast yang telah berumur lebih dari empat ratus tahun karya Madame de Villeneuve ini sarat dengan kritik-kritik sosial Madame terhadap rakyat Eropa pada saat itu, meskipun terdapat berbagai macam pendapat mengenai dari mana Madame mendapatkan inspirasi tersebut, apakah dari kehidupanya sendiri yang dahulunya adalah saudagar kaya yang jatuh miskin setelah menjadi canda, apakah terinspirasi dari dari cerita-cerita rakyat Eropa yang mempunyai banyak kemiripan mengenai pernikahan seorang monster dan seorang gadis belia, atau memang terinspirasi dari kebiasaan orang Eropa saat itu yang banyak ditemui pernikahan dengan gadis belia, di bawah umur, yang telah menjadi kebiasaan orang Eropa di abad ke-17.
Terlepas dari itu semua, banyak pelajaran yang dapat diambil dari cerita dalam novel ini. Belle, tokoh utama, tidak lagi digambarkan sebagai seorang gadis yang membutuhkan bantuan seorang pangeran, sebagaimana Cinderella dan Putri Salju, tetapi Belle memainkan peran tersendiri dalam menjalani hidupnya, menentukan keputusannya sendiri untuk berkehendak, bertindak, dan memilih jalan hidupnya sesuai hati nuraninya.
Novel ini menceritakan seorang gadis belia, Belle, yang menikah dengan seorang monster yang memiliki kerajaan yang sangat besar. Pernikahan ini terjadi karena adanya perjanjian ayah Belle dengan sang Monster, Beast. Perjanjian itu terjadi karena ayah Belle terpaksa berjanji supaya ia masih bisa bertahan hidup. Kesalahan ayah Belle adalah memetik sekuntum mawar di kebun bunga milik Beast tanpa ijin, bunga itu dipetik karena permintaan Belle kepada ayahnya sebagai oleh-oleh untuknya.
Ayah Belle menuturkan semua kejadian di sebuah kerajaan besar tak berpenghuni itu, kecuali Beast, termasuk penjanjianya dengan Beast mengenai putri bungsunya itu untuk di serahkan kepada Beast. Setelah melakukan pertimbangan, Belle memutuskan untuk pergi ke kerajaan Beast demi keselamatan ayahnya dan sebuah janji yang selah dilakukan ayahnya.
Di Kerajaan Beast, Belle diperlakukan dengan sangat baik oleh Beast, selama Belle tidak kabur dari kerajaan. Beast tak pernah bicara panjang lebar dengan Belle, hanya saja ia sekali-kali datang kepada Belle dan berkata, “maukah kau menikah denganku?” (hlm. 65) menjawab pertanyaan itu, Belle cukup menjawab “Iya” atau “tidak,” apabila Belle menjawab “tidak,” sebagaima yang selalu dijawab Belle kepada Beast, terutama di awal, maka Beast akan berlalu begitu saja tanpa berkata sepatah katapun. Menurutnya itu adalah hak Belle.
Akan tetapi, selalu ada kejadian aneh saat Belle berada di kerajaan Beast itu, yaitu mengenai mimpinya yang selalu bertemu dengan sesosok pangeran yang tampan dan rupawan, entah siapa dan dari mana asal-usulnya, meminta pertolongannya. Terkadang, sosok pangeran dalam mimpinya itu dirindukan oleh Belle, walau ia hanya ada dalam mimpi, itu tampak nyata bagi Belle.
Berdasarkan cerita di atas, apabila ditarik ke ranah sosial saat ini, seolah-olah terselip pesan, “ bukan lagi jamannya untuk menempatkan seorang wanita di sangkar emas, tetapi hak-haknya dikebiri” sebagaimana Belle hidup di sebuah kerajaan yang luas, mewah, dan segala fasilitas yang serba ada, namun, walaupun demikian, ia merasa kesepian. Lagi, “wanita harus merdeka terhadap dirinya sendiri, terutama dalam menentukan sebuah keputusan” sebagaimana keputusan Belle dalam menjalani janji ayahnya dan keputasan Belle dalam menolak atau menerima cinta Beast.
Suatu pesan yang tergambar di novel ini adalah “jangan hanya menilai seseorang hanya karena rupanya, tetapi juga nilailah seseorang berdasarkan budi pekertinya,” seperti Beast yang buruk rupa, namun memiliki budi pekeri yang baik, sebagaimana ia yang tidak pernah memaksakan kehendaknya supaya cintanya diterima oleh Belle.
Novel yang telah berkali-kali diadaptasi menjadi berbagai pertunjukan opera, serial televisi, dan film layar lebar ini sarat dengan pesan-pesan moral yang wajib dibaca berbagai kalangan. Di kalangan anak-anak, mungkin, monster bisa masuk ke imajinasinya untuk menyampaikan pesan-pesan moral. Di dunia orang dewasa, banyak simbol-simbol tokoh di cerita yang patut untuk terus ditelaah lebih lanjut untuk terus menggali nilai-nilai yang terkandung dari cerita dalam novel ini. Selamat membaca!
*peresensi adalah Mahasiswa Prodi PBA, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.
Komentar
Posting Komentar