Kritik Franz Magnis Suseno terhadap Sosialisme
Judul: Pemikiran Karl Marx; dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme
Penulis: Franz Magnis Suseno
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: x, 2016
Tebal: 292 halaman
ISBN: 978-602-03-3141-6
Peresensi: Moh. Tamimi
Bicara sosialisme erat kaitannya dengan kapitalisme karena hadirnya sosialisme yang dimotori oleh Karl Marx adalah bentuk kritik Karl Marx terhadap para kaum borjuis yang menguasai pasar.
Menurut analisis Marx, kapitalisme akan hancur dengan sendirinya seiring akan adanya pertarungan yang tidak sehat di antara para pemodal, saling menghantam satu sama lain. Akhirnya, pemodal terbesarlah yang akan terus bertahan, sedangkan pemodal kelas "teri" akan hilang dengan sendirinya akibat kalahnya persaingan yang terus memanas.
Kronologi kehancurannya demikian, para kapital berlomba-lomba membuat industri dengan sekian modal, misalnya. Mereka berusaha bagaimana usahanya ini semakin lancar, produksi semakin tinggi dan laba pun semakin besar. Hal itu, akan tercipta manakala mampu bersaing dengan industri sebelah. Oleh karena persaingan yang semakin ketat, ia berusaha meningkatkan kualitas dan menekan angka pengeluaran/modal, sedangkan harga jual juga ditekan untuk bisa semurah mungkin, demikian juga yang dilakukan industri sebelah. Akhirnya, industri ini akan mengalami persaingan ketat tadi, berusaha menghancurkm lawan, dengan begitu, mereka sama saja dengan menuju kehancurannya sendiri. Tanpa harus ada campur tangan orang luar.
Sering dengan kehancuran kaum borjuis ini, maka disitulah kebangkitan kaum proletar. Akan terjadi revolusi kaum buruh, kata Karl Marx. Marx menginginkan masyarakat yang tidak terasing dari dirinya sendiri, ada semacam kesamarataan ekonomi tanpa adanya kelas-kelas. Dengan kesamarataan ini, nantinya tidak dibutuhkan lagi negara. Semua dilakukan bersama dan dibagi bersama, sama rata.
Akan tetapi, sampai abad 21 ini, kapitalisme tak kunjung hancur, malah adem ayem dan semakin merajarela. Kapitalisme mampu menyerap kritikan pedas kaum sosialis tanpa harus menghancurkan dirinya sendiri. Apakah yang dilupakan Karl Marx? Itulah yang akan menjadi kritikan Franz Magnis Suseno kepda Sosialisme ala Karl Marx ini.
Ada banyak sekali kritik yang lontarkan Franz dalam buku ini. Akan tetapi, saya akan menulis tiga poin terpenting dari kritikan tersebut. Setidaknya ada 3 poin besar di sini yang perlu menjadi titik tekan utopia pemikiran Karl Marx: revolusi sosialis, teori tentang laba dan nilai lebih, dan kelas sosial.
Revolusi Sosialis
Pandangan Karl Marx tentang revolusi sosialis itu, yang sebabkan pertarungan tidak sehat (hal ini memang tidak dapat disangkal), menimbulkan bebera pertanyaan. Apakah kontradiksi-kontradiksi dalam kapitalisme memang niscaya akan membawa ke revolusi sosialis? (hlm. 181) Kemiskinan dari kaum buruh (proletar) sampai saat ini tidak terelakkan. Sehingga terjadi semacam ketergantungan kaum buruh kepada kaum pemodal.
Pengandaian Karl Marx, perihal revolusi ini, berdasarkan penekanan-penakanan upah kepada buruh. Menurut Franz Magnis-Suseno, "Yang tidak dipertimbangkan Kark Marx adalah kemungkinan kaum kapitalis, untuk menjaga ketentraman dalam hubungan kerja dan untuk meningkatkan motivasi dan produktivitas kerja buruh-buruh, justru menaikkan upah dan memberikan lebih banyak fasilitas." (hlm. 181)
Nyatanya, analisis Franz ini sesuai dengan kenyataan dalam dunia kerja saat ini, sedangkan revolusi sosialis itu tak pernah terwujud. Malah, disadari atau tidak, masyarakat berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan kerja yang "bergaji tetap" dari pada bekerja di tempat yang tidak jelas pendapatan perbulannya, yang notabenenya adalah bagian sistem kapitalis.
Marx menyatakan bahwa kaum atas dan kaum bawah tidak akan bersatu, mereka mempunyai kepentingan masing-masing sehingga pasti terjadi revolusi. Akan tetapi, tanpa Marx sadari/sengaja dihiraukan, mereka juga mempunyai kepentingan bersama sehingga terjadi tawar-menawar. Kaum buruh semakin menjadi lawan bicara tangguh bagi para pimpinan, karena itu, mereka harus diperhatikan atau memang dengan sendirinya diperhatikan.
Teori tentang Laba dan Nilai Lebih
Teori tentang laba ini adalah teori para kapitalis yang menjadi salah satu titik utama kritik Marx terhadap kapitalis yaitu , B1–U–B2/U1–K–U2/M1–K–M2. Tiga rumus ini intinya sama, B (barang), U (Uang), K (komoditas), M (modal), ingin memperbanyak harta yang semula. Barang dibeli lalu dijual lagi/punya modal dibelikan barang untuk memperbanyak modal awal. Hal ini yang dilakukan borjuis, kapitalis, nilai B2 lebih rendah daripada nilai B1.
Marx tidak menginginkan demikian, ia menginginkan bahwa seluruh pemilik modal adalah para pekerja. Semua hasil kerja buruh harus dihitung dengan seberapa lama suatu benda itu selesai dikerjakan sehingga menjadi barang jadi. Semakin lama mengerjakan suatu barang, maka semakin mahal pula harga jual barang itu. Hasilnya dipotong rata.
Padahal, nilai komuditas suatu barang tidak hanya ditentukan oleh pekerjaan yang masuk pada pembuatannya/penciptaaannya. Misalnya nilai pakai, guna barangnya, barang itu diminati masyatakat atau tidak, itu juga menentukan nilai suatu barang. Tentu saja, waktu pembuatan merupakan salah satu unsur utama penentu nilai sebuah barang, tetapi hal itu bukan satu satunya.
Pertanyaan Suseno yang sangat tajam, menurut saya, terkait hal ini adalah mempertanyakan apa patokan nilai tenaga kerja? Menurut Marx, nilai tenaga kerja ditentukan oleh kebutuhan buruh, padahal bicara kebutuhan ia adalah pengertian secara kurtural, sehingga tidak sama kebutuhan satu buruh dengan buruh yang lain (hlm. 202). Lagi-lagi yang mampu "menyejahterakan" adalah para kapitalis, dengan adanya jam kerja, UMR ataupun UMK.
Franz Magnis-Suseno juga menanyakan, pekerjaan mana yang menciptakan nilai? Mengingat bahwa menurut Marx seluruh bidang yang disebut "pelayanan" tidak menghasilkan nilai, nilai hanya berbentuk benda. Padahal keahlian seseorang dalam mengonsep perusahaan, membersihkan halaman, tukang gunting rumput dan tukang pembersih kloset sekalipun mempunyai peranan tersendiri yang tak kalah penting dari pada para buruh yang berada dalam pabrik. Bagaimana jadinya jika tidak ada administrator, pembantu kebersihan, satpam/keamanan?
Kelas Sosial
Diantara sekian banyak cita-cita Karl Marx adalah meniadakan kelas-kelas sosial di tengah-tengah masyarakat. Menurut Karl marx, semua sistem ekonomi sampai sekarang ditandai dengan adanya kelas-kelas bawah dan kelas-kelas atas. Lebih lanjut, menurut Marx, negara tidak bertindak untuk kepentingan umum melainkan alat kelas atas untuk mengamankan kekuasaan mereka.
Berdasarkan pernyataan di atas ini, Franz Magnis-Suseno mengajukan beberapa pertanyaan penting: betulkah bahwa pertentangan antara kelas sosial, terutama antara kelas atas dan kelas bawah, sedemikian tidak tak terdamaikan sehingga perubahan sosial hanya mungkin terjadi melalui revolusi?
Apakah peran individu dan pemimpin kuat dalam sejarah tidak terlalu diremehkan? sebagaimana Napoleon Bornapate, Adolf Hitler, Boriz Yelzin, dan pemimpin-pemimpin besar lainnya. Sejarah mengatakan bahwa di tangan mereka terjadi peristiwa-peristiwa bersejarah yang sulit untuk dilupakan, seperti pembantaian Hitler kepada kaum Yahudi di Jerman.
Menurut Franz Magnis-Suseno, kelemahan teori Karl Marx, dalam status sosial, ialah bahwa ia hanya melihat dari satu sisi, yaitu bahwa cara manusia berpikir dipengaruhi oleh kepentingannya, tetapi ia tidak melihat bahwa berpikir juga memengaruhi apa yang menjadi cita-cita, keyakinan, dan karena itu kepentingan luhur.
Uraian Franz Magnis-Suseno dalam buku ini sangat runut dan kritik-kritiknya begitu tajam terhadap sosialisme. Akan tetapi, Franz tidak mempunyai solusi-solusi cerdas dalam terkait sistem ekonomi mana yang baik dan pantas untuk diterapkan.
*Lebih suka pada pemikiran kiri daripada menutup diri
Komentar
Posting Komentar