Melawan Hoax Lewat Puisi



Judul: Sajak Hoax
Penulis: Sosiawan Leak
Penerbit: Elmatera, Yogyakarta
Cetakan: I, Februari 2018
Tebal: viii + 178 halaman
ISBN: 978=602-6549-97-6

Mekanisme puisi dalam melawan hoax adalah dengan cara membangun kesadaran pembacanya atau pendengarnya (ketika dibacakan) karena puisi mampu menyentuh inti nurani dan akal budi manusia. Selain bertumpu pada estetika teks, puisi juga mempunyai semacam ruh yang menelusup ke setiap jiwa-jiwa pembacanya.

Puisi-puisi yang dikarang oleh penyair asal Solo ini adalah salah satunya. Sosiawan Leak mengkampanyekan pemberantasan hoax lewat puisi, sesuai perannya sebagai penyair. Di antara bait-bait puisinya yang berjudul Aku Tulis Puisi ia menulis;

Aku tulis puisi/meski kumengerti kadang tak berarti/karena puisi bukanlah ayat tuhan/yang sah memanah surga atau neraka/puisi tak pula undang-undang/yang kadang sumbang/membidik kebenaran dan kasalahan/dalam ruang pengadilan/yang dipancang tiang-tiang/uang (hlm. 176)

Ada semacam kesadaran penulis bahwa terkadang puisi dihiraukan karena ia dianggap “tak berarti” oleh orang lain. Namun, bagaimanapun puisi mempunyai tugasnya sendiri terhadap kehidupan sosial maupun ilmu pengetahuan. Bagi Leak “luka mesti disembuhkan biarpun kesakitan.” (hlm. 177)

Perihal hoax, Sosiawan Leak menyampaikannya dengan lugas tanpa menghilangkan kata-kata puitisnya sebagai puisi.

Orang-orang tanpa kepala/tak bisa menyimpan argumentasi, fakta, dan data/serta kebenaran logika di otaknya/ dari kelingking, sikut, dengkul/bahkan duburdan belahan pantat; kata-kata muncrat/menjelma sihir provokasi, lendir agitas (hlm. 164)

Orang-orang tanpa kepala yang dimaksud Leak mungkin adalah para penyebar hoax yang tidak diketahui siapa identitasnya, mereka berlindung di balik akun sosial palsu atau media-media yang tidak terveritifikasi secara jelas keabsahan datanya. Sehingga, ia melanjutkan larik puisinya dengan “tak bisa menyimpan argumentasi, fakta, dan data/serta kebenaran logika di otaknya/” karena kenyataannya itu memang bukan fakta dan sering kali tidak dibangun dengan kebenaran logika berpikir yang benar
juga kedangkalan nurani/menabur filsafat kebodohan dan iri dengki tanpa tandingan/tak dapat dilacak di kamus istilah, risalah penelitian/teori, dan kajian keilmuan/apalagi kitab suci dan lontar kearifan lokal. (hlm. 164)

Bait lanjutan di atas ini menegaskan bahwa para penyebar hoax tidak mempunyai hati nurani yang baik sebagai masyarakat, mereka menyebar kebohongan berlandaskan rasa iri dan dengki. Namanya juga hoax, data-data yang disampaikan tidak dapat ditemukan di berbagai sumber yang absah, baik hasil penelitian, kajian-kajian keilmuan, maupun dalam kitab suci sekalipun. Paling tidak, isi kitab suci diselewengkan sesuai kepentingan tertentu.

Buku antologi puisi yang dikarang oleh salah satu pemenang Hari Puisi Indonesia pada tahun 2018 ini tidak melulu membahas tentang Hoax, tetapi juga membahas berbagai persoalan sosial, politik, budaya, teknologi dan lain-lain. Sajak-sajak yang termaktub dalam buku ini ditulis sejak 1991 tahun sampai tahun 2017.

Akan tetapi, pemilihan judul “Sajak Hoax,” yang diambil dari salah satu judul puisinya, mungkin disesuaikan dengan masalah sosial yang kronis dan urgen untuk disembuhkan saat ini, seiring dengan makin banyaknya media sosial. Hal semacam ini sudah semacam  telah diprediksi oleh Sosiawan Leak belasan tahun lalu, sebagaimana tertuang dalam sajak “Fobia,” berikut penggalan puisinya:

mereka pula yang melayang-layang di angkasa/menyerbu segala disket/menjelma kode-kode komputer dan internet/yang luput kau pahami maknanya (hlm. 56)
mereka menyerbu tanpa peduli/pada kepapaan yang telah lama duduk di kursi lamunan/pada kemoyakan yang kian termangu di meja makanmu/dalam rupa beraneka warna;/birokrasi-pornografi/inflasi-ekstasi/politisi-intropeksi?/suksesi-kuningisasi/puisi-subversi (hlm. 57)

puisi ini ditulis dua puluh dua tahun yang lalu, 15 Januari 1996, saat internet masih belum seluas dan secepat sekarang. Namun, hal itu benar-benar terjadi saat ini, “mereka menyerbu tanpa peduli” penggunanya.

*Diresensi oleh Moh. Tamimi, mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Sumenep.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menertawakan Luka

Tarekat Qadiriyah

Pendidikan Sosial