Postingan

Ulang Tahun Aurora

Oleh: Moh. Tamimi* Aurora baru saja terbangun dari tidur panjangnya, walaupun tak dilihatnya sosok pangeran yang mengecupnya saat tidur pulas lalu tersenyum saat kelopak matanya terbuka di pagi itu. Hari itu adalah hari ulang tahunnya. Ia merayakan sendiri dalam sangkar emasnya yang tak kunjung disepuh kembali oleh pandai emas. "Aku berharap tak merayakan hari ulang tahunku sendiri dan aku mendapat suprise yang tak terlupakan sampai aku tertidur kembali,"  ungkapnya dalam batin sembari mengepalkan kedua telapak tangannya, penuh pengharapan. Dinding-dinding kamar Aurora seperti gedung mati peninggalan sejarah yang sudah tak berpenghuni, walaupun demikian, ia tak melihat jaring laba-laba di sudut kamarnya ataupun sekedar perseteruan antara tokek dan cicak. Garis-garis retak adalah ornamen satu-satunya dinding itu, semua warna cerah sudah tak terang lagi, kusam penuh debu. "Aku ingin ada yang menemaniku walaupun binatang-binatang tak bersuara, sekadar untuk meyak...

Putri Kamboja dan Pangeran Air

Gambar
Oleh: Moh. Tamimi Seorang putri selalu meminta untuk dibacakan sebuah cerita menjelang tidurnya, Putri Kamboja namanya. Dibacakanlah sebuah cerita oleh sang Pangeran Air menjelang tidurnya, malam itu tentang kelinci dan pasukannya. Sang putri kecanduan dan terpukau dengan cerita sang pangeran, ia selalu minta lagi, lagi, dan lagi. Meskipun demikian, sang Putri tak ingin ia disebut seorang putri manja.  Mungkin sebelumnya ia banyak mendengar tentang putri yang selalu berdiam diri di kastil menunggu seorang pangeran tampan menjemputnya. Ia ingin menjadi putri yang kuat, katanya. "Aku adalah perempuan tangguh dan heroik," tuturnya pada Pangeran Air. "Baiklah, kamu adalah seorang putri yang baik, cantik, dermawan, kuat menghadapi setiap tantangan, kayak super hero," jawab Pangeran Air menuruti. "Kayak siapa?" "Wonder Women." "Gak mau" "Lalu?" "Emm seperti siapa yaa?" Putri Kamboja menelengkan kepalanya me...

Terasingnya Dunia Bermain Anak-Anak

Judul: Bocah Menyusu Ular Penulis: Rini Tri Puspohardini Penerjemah: Sosiawan Leak Penerbit: Elmatera Cetakan: I, Maret 2018 Tebal: x + 180 halaman ISBN: 978-602-5714-12-2 Anak-anak adalah generasi bangsa. Sudah sepantasnya mereka diperhatikan, dididik, diayomi, dan dirawat dengan baik. Apabila anak-anak sudah tidak dirawat dan dididik dengan baik, maka habislah masa depan suatu bangsa karena merekah satu-satunya penerus bangsa dan negara. Rini Tri Puspohardini menggambarkan beberapa kehidupan anak-anak di negeri ini, Indonesia. Anak-anak di jalanan, anak sekolahan, dan anak-anak dengan dunia bermainnya. Di bidang permainan, misalnya, kehidupan mereka semakin terasing/diasingkan dari teman sebayanya. Di jalanan mereka ditelantarkan. Sedangkan di sekolah-sekolah, masih banyak ditemui para murid tidak dididik dengan baik oleh gurunya. Contoh kecil yang diangkat oleh Rini adalah banyaknya anak-anak zaman sekarang yang tidak lagi bermain berbagai permainan tradisional seperti ...

Perkara Jodoh

Oleh: Moh. Tamimi* Dikatakan bahwa Allah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Ketika ada seorang jomblo dengan kengenesannya diapusi dengan kata-kata, "Tenang, Allah telah menciptakan manusia berpasang-pasangan, pasti ada kok nanti, percaya saja." Sebenarnya, mungkin, kamu hanya ketakukan untuk bertanya lebih kritis karena kamu, kejombloanmu, tak 'kan enyah.  "Apakah orang yang jomblo seumur hidup sampai dia mampus tidak diciptakan pasangan?" Biasanya si penjawab dengan entengnya menjawab bahwa jodohnya nanti ada di Surga. Duh, coy, Surga, lu mau menikah di Surga? Yakin? Ayolah jangan mudah tertipu, memangnya Surga tempat orang nikah apa? Tak ada yang tahu bukan? Toh, Surga itu suatu kenikmatan yang tak terlintas di pikiran kita, so kalau masih terlintas di pikiran kita, pantaskah ia disebut Surga? Pedagang sayur, Aristoteles, keliling yang biasa nangkring di samping rumahku berkata begini saat mempromosikan sayurannya pada ibu-ibu, "Ayo, Bu, dibe...

Wanita, Pondok, dan Sastra

Oleh: Moh. Tamimi * Wanita sebagai makhluk antik dengan segala keunikannya itu banyak mengilhami para penyair untuk berkarya. Jangankan penyair, filosof sekelas Aguste Comte saja, apalah daya jika tidak ada wanita pujaannya yang melatari filsafat positivisme-nya. Karya master piece Kahlil Gibran, The Broken Wing’s , yang mengisahkan cinta bertepuk sebelah tangan, belum tentu tercipta kalau bukan karena wanita yang dicintainya setengah mati, sepenuh hati. Soekarno tanpa istri-istrinya, aduh betapa galaunya. Sayangnya, atau sekelas kata memperihatinkan, wanita selalu dijadikan objek atas hampir segala hal. Sumber kejahatan, wanita. Sumber kemaksiatan, wanita. Sumber keberhasilan ini, jangan sampai lupa, juga karena wanita. Di balik laki-laki yang sukses, ada wanita yang hebat, kata Mario Teguh. Jangankan laki-laki kelas teri,  kalau sholat adalah tiang agama, maka wanita adalah tiang negara. Negara ini sudah kelas kakap loh. Namanya juga tiang, seperti tiang rumah, dilihat dari...

Maling Khas Madura

Oleh: Moh. Tamimi Kamu masih ingat tidak, lagu Trio Macan, itu loh yang personelnya kayak macan beneran, bajunya, tentang maling. "Maling kau maling kau maling, jangan teriak maling, bila kau maling, jangan berisik." ingat kaan? yaelah, masah gak ingat, itu kan lagu yang sering kamu nyanyikan di kamar mandi sambil jingkrak-jingkrak. Kira-kira, malingnya siapa yaa? orang Madura bukan ya? yang dicuri apa ya? kalau yang dicuri sapi, kemungkinan besar itu orang Madura. Akan tetapi, kalau yang dicuri adalah hati loe, yaa gue lah itu orangnya. Siapa lagi yang sok ganteng di sini kalau bukan gue, Tamimi ini. Toh gak orang lain di sini kucuali you and me. Entar dulu, saya kok penasaran dengan maling itu ya? Kalau maling yang sering mencuri uang di senayan itu, saya gak mau tanya lagi, terlalu banyak vrooh. Kalau seandainya Khalifah Harun Ar-Rasyid bertanya lebih banyak mana antara bintang di langit dan ikan di lautan ke Abu Nawas, maka dalam konteks kekinian kira-kira begini p...

Etika Berpolitik Sehat

Judul: Etika Politik Penulis: Franz Magnis-Suseno Penerbit: Gramedia Cetakan: 2016 (edisi revisi) Tebal: xxx+536 halaman ISBN: 978-602-03-3470-7 Peresensi: Moh. Tamimi* Carut marut politik yang penuh intrik sering kali membuat publik apriori terhadap politik, menganggap kalau politik pasti kotor, dunia penuh kebohongan. Padahal, politik, sejatinya tidak demikian. Wajar, jika ada anggapan demikian, karena setiap hari yang nampak di televisi maupun di berbagai media lainnya yang nampak adalah korupsi, saling menyerang, dan perilaku para politikus yang jauh dari kata bermoral. Hadirnya buku ini, Etika Politik, bukan untuk menceramahi para politisi yang banyak korupsi itu, melainkan memberikan pandangan-pandangan dasar pada pembaca tentang bagaimana harkat kemanusiaan dan keberadaban kehidupan masyarakat dapat dijamin berhadapan dengan kekuasaan negara modern, terlebih tiga ratus terakhir. Wewenang negara dalam menerapkan hukum harus didasarkan terhadap nilai-nilau keadilan dan...