Terasingnya Dunia Bermain Anak-Anak


Judul: Bocah Menyusu Ular
Penulis: Rini Tri Puspohardini
Penerjemah: Sosiawan Leak
Penerbit: Elmatera
Cetakan: I, Maret 2018
Tebal: x + 180 halaman
ISBN: 978-602-5714-12-2

Anak-anak adalah generasi bangsa. Sudah sepantasnya mereka diperhatikan, dididik, diayomi, dan dirawat dengan baik. Apabila anak-anak sudah tidak dirawat dan dididik dengan baik, maka habislah masa depan suatu bangsa karena merekah satu-satunya penerus bangsa dan negara.

Rini Tri Puspohardini menggambarkan beberapa kehidupan anak-anak di negeri ini, Indonesia. Anak-anak di jalanan, anak sekolahan, dan anak-anak dengan dunia bermainnya. Di bidang permainan, misalnya, kehidupan mereka semakin terasing/diasingkan dari teman sebayanya. Di jalanan mereka ditelantarkan. Sedangkan di sekolah-sekolah, masih banyak ditemui para murid tidak dididik dengan baik oleh gurunya.

Contoh kecil yang diangkat oleh Rini adalah banyaknya anak-anak zaman sekarang yang tidak lagi bermain berbagai permainan tradisional seperti petak umpet, kasti, gobak sodor, dan lainnya. Mereka lebih banyak disodori permainan-permainan yang modern. Hal itu tertuang dalam salah satu puisinya yang berjudul Hampa.

Dunia kian hampa/ tanpa warna pergaulan yang rindang/  berjalan pucat di tengah padang/ sempoyongan mengejar laju jaman// tak ada lagi cerita bocah bekejaran/ gobog sodor, benthik, umbul, dan jelungan,/ kasti, jirak, engklek, atau layangan/ naik egrang, gledegan, apa lagi main tebakan/ tak ada lagi bocah main di pelataran/ berjeritan sorak atau bersitegang bersindiran.

Penggalan puisi di atas sudah cukup jelas menggambarkan sebagian dunia pergaulan anak-anak zaman sekarang. Teman sepermainan sudah semakin berjarak.” Sorak sorai kebahagian bersama teman-teman sebaya semakin tak terdengar. Hal senada juga diungkapkan dalam puisi berjudul Kalung Kembang Kemuning.

Kagum memandang bocah yang asyik/ bermain kelereng di halaman/ atau meronce kembang kemuning/ jadi kalung gelang, dan mainan lain. (hlm. 14) Lalu di akhir sajak, Rini menutupnya dengan pertanyaan retoris kenapa tumpukan uang di tabungan/ yang susah menghitungnya/ tak jadi jalan bagi senyuman. Secara tersirat, seolah ia ingin mengatakan bahwa kebahagiaan tidak dapat dibeli dengan uang.

Lebih jauh, penyair asal Semarang ini menyoroti tentang pelecehan seksual terhadap anak-anak yang sudah tidak asing lagi di telinga, baik di lingkungan sekolah maupun di kampung-kampung dan perkotaan. Lebih parahnya lagi adalah ketika anaknya sendiri dinodai. Rini mengumpamakan ini dengan Harimau yang memangsa anaknya. Sebagaimana tertuang dalam sajak Catatan Tahun Lalu.

Ketika anak burung dilepas di antara elang dan kucing liar/ tak paham di mana tempat persembunyian/ ketika bayi kucing yang belum tegak larinya/ mesti disapih sebelum saatnya// ini catatan tahun lalu/ ketika harimau tega memangsa anaknya. (hlm. 65)

Penyair yang juga menyoroti guru sebagai tenaga pendidik di sekolah yang kurang baik dalam memberikan teladan terhadap anak-anak, seperti selalu bermain handphone saat pelajaran sedang berlangsung, kurang memperhatikaan anak didiknya. Sehingga, wajar jika para anak didiknya bersifat apatis, kurang menghargai sesamanya, egois, dan lain sebagainya.

Bu guru,.../ jangan menyalahkan/  jika aku dan kawan-kawan jadi apatis/ di kelas karena aku diumbar/ padahal aku ingin dilarang/ dipahamkan, dimarahi,  jika perlu juga disentil/ tapi tidak./ bu guru terlalu asyik menyentuh kaca beraksara/  geser ke sana geser ke mari/ kadang kala tertawa sendiri. (hlm. 80)

Puisi-puisi yang ditulis oleh Rini Tri Puspohardini ini adalah puisi berbahasa Jawa, dalam istilah jawa disebut geguritan, yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Sosiawan Leak, penyair asal Solo. Buku dibagi menjadi dua bagian: bagian pertama berbahasa Jawa dan bagian kedua berbahasa Indonesia. Sehingga, pembaca tetap bisa membaca teks asli puisi yang ditulis oleh Rini Tri Puspohardini.

Tema pembahasan dalam buku ini beragam, tidak tematik, membahas berbagai persoalan sosial, budaya, ekonomi, dan lain-lain. Namun, potret kehidupan anak-anak Indonesia adalah titik tekannya. Terbukti dengan dipilihnya Bocah yang Menyusu Ular sebagai judul buku, diambil dari salah satu judul puisi yang membahas tentang kehidupan anak-anak kecil.

*Diresensi Moh. Tamimi, mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Sumenep.


Tulisan ini dimuat di Jawa Pos Radar Madura pada hari Ahad, 17 Oktober 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menertawakan Luka

Tarekat Qadiriyah

Pendidikan Sosial