Perempuan yang Aku Temui
![]() |
| Topeng Perempuan. Foto: Moh. Tamimi |
Ketika aku bertemu dengan perempuan kuliah jurusan sastra, seketika itu juga muncul daftar novel di kepalaku.
Saat itu pula aku bakal nyerocos mengajaknya bicara dan bicara apakah telah baca buku ini dan itu. Alhasil, banyak perempuan ilfeel padaku.
Sifatku yang seperti itu berlaku untuk semua perempuan dari berbagai latar belakang pendidikan: tasawuf, psikologi, biologi, sosiologi, sampai sastra.
Kadang aku hanya bermodal satu-dua buku yang pernah saya baca atau artikel di media massa.
Bacaanku acak. Aku tidak punya spesifikasi keilmuan yang benar-benar kukuasai. Apesnya, selain baca buku secara acak, bacaanku sangat sedikit. Terkadang, ada perempuan yang juga suka diajak bicara seperti yang aku ingin. Di situlah, aku mulai wa wi wu karena tak bisa mengimbanginya dengan baik. Kemampuan asliku akan terlihat saat itu. Aku bukan mau sok keren di depan perempuan dengan "pamer" pengetahuan yang tak seberapa itu.
Aku tetap senang meski aku tidak sepenuhnya paham apa yang mereka bicarakan karena aku akan mendapat informasi-informasi baru yang bisa kutelusuri sendiri bila itu terdengar baik.
Dulu, bila aku baru kenal dengan teman perempuan, aku akan menanyakan bukunya. Dia punya buku apa saja. Aku tak akan ragu untuk meminjam buku-bukunya, meski tidak jarang aku dibilang modus saja. Aku tak peduli, yang penting aku dapat bahan bacaan bermutu.
Rata-rata teman SMA-ku tidak punya banyak buku, mentok puluhan. Kadang, di antara mereka ada yang meminjamkan buku pinjamannya padaku, kadang memang milik keluarga atau temannya.
Kata teman-teman, caraku mempelakukan perempuan kurang baik untuk memulai pertemanan, apalagi untuk PDKT. Aku memang tidak punya pengalaman baik perihal yang terakhir itu.
Teman bilang, wajar jika para perempuan yang aku temui itu akan merasa risih padaku. Mereka ingin senang-senang, meski kadang cerita tentang masalah pribadinya, mereka hanya ingin didengar, mereka tidak ingin disuguhi (mendengarkan) hal-hal yang bikin pening kepala: buku-buku atau masalah kehidupan kita (laki-laki). Ingat, mereka hanya ingin cerita bahagia. Mereka ingin terus tertawa dan merasa nyaman dengan keberadaan kami (laki-laki).
Aku perlu banyak beradaptasi dengan orang-orang baru seperti itu. Tentu tidak semua perempuan seperti yang temanku ceritakan. Mayoritas mungkin seperti itu.
Mereka orang baru, bukan seperti teman lama kita yang bisa ngomong apa saja secara bebas, tertawa dan berbagi kesedihan untuk saling menguatkan.
Saat komunikasi sudah intim, masih belum ngomong pun di antara kami sudah bisa tertawa karena mengerti apa yang dimaksud. Karena teman dekat, kami sudah tahu alur pemikiran kami.
Ketika aku bertemu teman perempuan, mereka tak akan bertanya seberapa banyak buku yang aku baca. Mereka akan melihat seperti apa stelan baju yang aku pakai dan seberapa ganteng aku.
Katanya, titik "lemah" perempuan ada di telinganya. Oleh karena itu, mereka mudah terbuai dengan kata-kata. Sialnya, aku kurang berbakat menyusun kata-kata manis saat bertemu perempuan untuk pertama kalinya.
Aku ingin punya kemampuan itu agar aku bisa memperlakukan perempuan yang aku temui dengan baik.
Kamar, 6 September 2023 16.10

Komentar
Posting Komentar