Cerita Aku


Aku capek. Aku lagi mendendangkan lagu “Aku Milikmu.” Aku pengen saja nyanyi itu. Aku pengen baca buku, tapi mataku terasa berat. Aku tak bisa tidur. Aku gelisah, tidak tahu gelisah kenapa. Aku milikmu, aku ingin jadi milikmu. Aku tak jadi ingin milikmu, kita bersinergi saja. Kita milik Allah.

Aku ingin menulis tentang dirimu, perempuan paling rahasia,  perempuan paling misterius, perempuan satu-satunya.

Aku ingin bilang cinta padamu, tapi hanya di mulut, gak pakek hati. Cinta itu di mulut atau di hati atau di badan atau dalam bentuk perbuatan. Apa bedanya cinta dan pengorbanan? Apakah cinta punya tempat, butuh tempat? Apakah pengorbanan harus diucapkan? Apakah pengorbanan harus dengan cinta? Apa cinta butuh pengorbanan? Apakah arti diriku padamu?

Aku bingung. Berusaha mengerti,  dibilang ke-GR-an. Berusaha gak GR, dibilang gak peka. Cewek ribet, bikin aku ribet.

Aku butuh inspirasi. Kadang aku ingin mati. Aku ingin berarti, sebelum mati. Mati tak bisa menyelesaikan masalah. Apakah kita diabadikan oleh yang Maha Abadi? Kalau aku mati, tinggal ruhku. Ruhku tetap hidup, entah ada dimana. Kemana tujuan akhir sang ruh? Apa yamg diinginkan ruh? Apa yang diinginkan Tuhan terhadap ruh? Tuhan tak punya keinginan seperti manusia.

Aku menunggumu. Aku berada dalam ketidakpastian. Kamu buat aku menunggu. Sampai kapan kamu datang padaku sebelum ruhku pergi. Jika ruhku dan ruhmu ingin bertemu, pertemukan jasmaninya. Apa yang perlu dipertemukan dahulu ruh atau badan?

Aku ingin pulang, dalam pelukanmu. Aku ingin pelukan.

Aku ingin kamu mengerti diriku. Aku ingin mengerti diriku. Aku ingin mengerti dirimu. Aku tak ingin bertele-tele. Aku tak bisa mempersingkat kata-kataku. Aku ingin bicara lebih lama denganmu.  Kamu jangan sok tahu, tentang kata-kata dan aksara.

Aku ingin menari, seperti tarian sufi. Apakah sufisme jalan kebahagiaan. Kamu siapa? Aku siapa? Jangan bingung. Aku punya jawaban. Aku adalah... kamu adalah nafasku. Aku tak bisa jawab tentang diriku.

Aku ingin bersumpah, atas nama cinta. Aku cinta kamu.

Aku ingin kamu dengar sumpahku, dengan telingamu yang paling dekat dengan mulutku. “Coba dengarkanlah sumpahku!”*

Aku ingin menarik sumpahku. Aku tak ingin menari. Aku tak ingin kamu mengerti diriku. Aku tak ingin pulang. Aku tak ingin menunggumu. Aku tak sedang butuh inspirasi. Aki tak bingung. Aku tak ingin bilang cinta padamu. Aku tak ingin menulis tentangmu. Aku capek.

*Lirik lagu Aku Milikmu – Dewa 19.

Kamar Rebahan

Sabtu, 18 April 2020 20. 29 WIB.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menertawakan Luka

Pendidikan Sosial

Tarekat Qadiriyah