Luka
Hai, Sri. temanmu sedang luka. Apa yang bisa kita bantu untuk temanmu ini. Sebaiknya kita membantunya dengan sebaik-baik bantuan.
Aku, kamu, dan dia pernah merasakan luka bukan? Seperti kata Joko Pinurbo, “Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma.”*
Ada dua macam luka, luka raga dan luka batin. Ada banyak cara mengekspresikan luka, salah satunya menangis. Ada banyak cara dalam menangis, salah satunya menahan air mata. Ada banyak cara menahan air mata, salah satunya menertawakan kesedihan. Ada banyak cara menertawakan kesedihan, salah satunya aku tak tahu.
“Seandainya cinta ini tak pernah terjadi, tak ‘kan ada air mata dan hati perih terluka,” kata Ari Lasso.**
Sri, aku tidak tahu menyembuhkan luka perempuan. Mungkin kamu tahu, Sri. Bagiku, tidak ada orang yang bisa menyembuhkan luka orang lain. Hanya ia yang bisa menyembuhkan lukanya sendiri.
Temanmu adalah seorang magister. Jika ia luka dan harus menangis, semestinya menangis secara intelek. Ia hendaknya menganalisis tangisnya sendiri menggunakan metodelogi dan pendekatan akademis.
Sri kamu bisa membantu penelitiannya, nanti perspektifnya gabung antara biologi dan psikologi, biar tidak kalah dengan pembuatan bom bio-fisika yang diisukan dirancang oleh Timur Tengah. Jangan lupa latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan pembahasannya. Ini memang wajib bukan.
Aku akan bantu mengajukan beberapa pandangan untuk dijadikan rumusan masalah, baik secara bilogis maupun psikologis.
Berapa debit air mata per menitnya? Apa saja yang mempengaruhi cepat-lambatnya air mata? Apa saja yang berubah/bereaksi dari anatomi tubuh ketika seseorang menangis? Dari mana sumber air mata? Berapa ion yang berkurang ketika seseorang menangis dengan debit tertentu? Mengapa mata memerah saat menangis? Apa dampak tangisan luka pada psikis seseorang? Apa hubungan air mata dan psikologi? Mengapa seseorang bisa menangis dalam kacamata bio-psikologi?
Ingat, Sri, PBB pada tahun 2002 telah memutuskan air sebagai HAM. Mata air perlu dilindungi, perlu dikonservasi. Sedangkan air mata tidak ada yang melindungi. Bahkan Sri, terkadang air matamu mengalir di pipiku, keluar dari kelopak mataku. Hapuslah air matamu ini dengan jemarimu. Aku akan hapus air mataku di pipimu.
Perihal air mata temanmu, siapa yang akan menghapusnya? Sedangnya orang yang harusnya menghapus air mata itu adalah penyebab air matanya menetes. Hanya ada satu jawaban: hapus sendiri.
Luka seperti itu hanya untuk dikenang, Sri, tak kurang, tak lebih. Ia bisa dijadikan pelajaran.
Sri, bilang ke temanmu itu. Dia harus kuat, tegar, dan tegas pada diri sendiri. Sebuah perjuangan memang butuh pengorbanan, entah ia harus mengorbankan dirinya sendiri atau di luar dirinya. Perjuangan tidak boleh berhenti di tengah jalan, apalagi sudah terlanjur banyak yang dikorbankan.
Lukanya harus disembuhkan. Rinduku padamu harus dituntaskan. Jangan sampai luka itu abadi dalam mayapada ini.
Salam setia untukmu selalu, kekasihku.
Kamar, 23 Oktober 2020 19. 37
*Petikan puisi Joko Pinurbo dalam buku Baju Bulan.
**Petikan lirik lagu “Seandainya” karya Ari Lasso.
Komentar
Posting Komentar